Selasa, 04 Juni 2019

Pendakian Bulan Puasa Ke Gunung Rakutak 1957 MDPL (Pendek-pendek Menyakitkan)

Bismillahirrohmanirrohim


18 Juni 2019

Pendakian bulan ramadhan saukur niat ngabuburit, tapi saking ngabuburit na nepika burit teuing, indit ti isuk jedur balik-balik nepi ka sore jeder. Cukup sakali keur pangalaman, moal-moal deui ngaririmpuh diri, katampi pisan tikoro seret jeung biwir haseum, syukur alhamdulillah, untung na tiasa tuntas.

Dibalik menyiksanya pendakian dibulan ramadhan, ternyata terdapat nikmatnya, yakni tidak usah berat-berat membawa air minum, kemudian merasakan nikmat sunyi dan heningnya gunung, hanya ada suara-suara jejak langkah, hewan dan desiran angin, sebab disepanjang jalur dan keberadaan orang-orang yang mendaki pun jumlahnya sedikit atau malah tidak ada. Lalu, dalam mendakinya pun berjalan perlahan dengan sangat-sangat nyantai, tidak ngabret terburu-buru, lantaran kalau rurusuhan yang ada malah cepat haus, jadi akan lebih menikmati makna dari sebuah perjalanan. Selanjutnya, mendaki dibulan ramadhan juga meminimalisir membuang sampah di gunung atau malas membawa turun kembali sampah dengan mengimplementasikan pendakian zero waste atau pendakian tanpa menghasilkan sampah, yaiya lah, percuma bawa logistik senikmat dan sebanyak mungkin juga tidak akan bermanfaat, yang ada malah jadi ngagogoda.

Namun, semuanya kembali lagi pada diri sendiri, sekiranya kondisi fisik tidak memungkin mah, jangan terlalu obsesi memaksakan diri, omat, bilih teu tiasa lebaran ngaleeut kupat sareng opor hayam oge kueh salju.

Gunung Rakutak terletak di Desa Sukarame Kecamatan Pcaet Kabupaten Bandung atau sekitar 1,5-2 jam perjalanan menggunakan kendaraan dari kota Bandung. Dari Kota Bandung bisa diakses lewat Moh Toha atau Buah Batu untuk menuju kearah Ciparay, setelah sampai di Alun-alun Ciparay lalu tinggal belok ke arah kanan dan lanjut terus mengikuti jalan hingga ke atas. Untuk melihat kondisi jalannya sampai ke basecamp  bisa lihat di channel youtube ku, jangan lupa like dan suscribe juga, ya. Bisa juga menggunakan angkutan umum dari pusat kota naik angkot jurusan Tega lega - Ciparay kemudian turun di Terminal Ciparay. Setelah itu, dari Terminal Ciparay bisa menggunakan angkot kuning jurusan Ciparay - Pacet - Santosa, bilang aja ke si mang nya mau turun di basecamp rakuak, nanti oleh si mang nya diberhentian di gapura yang menuju basecamp rakutak. Oh iya, basecamp nya sedikit tersembunyi dari jalan, sedikit masuk gang, jadi jika tidak menemukan, tinggal bertanya saja kepada warga sekitar, masih banyak warga yang ditemui disana. 

Pendakian dimulai dari basecamp pukul 08.00 pagi, menurutku memulai pendakian untuk tektok terlalu siang, karena jika mendaki tektok, harus berkejar-kejar dengan waktu, agar tidak terlalu siang di puncak dan agar tidak kehujanan diwaktu sore hari taktkal melanjutkan perjalanan turun gunung. Tapi, ini tujuannya untuk pendakian ngabuburit, supaya sudah turun gunung tidak terlalu lama untuk menunggu adzan maghrib dan untungnya semesta sedang berpihak pada kami, hujan pun tidak kunjung datang hingga kami kembali ke basecamp, syukur. Tidak tahu kalau hujan, sepertinya bakal menambah penderitaan dengan jalur seperti itu.

Jalur pendakian Gunung Rakutak dimulai dari basecamp akan melewati rumah warga dengan masuk ke gang-gang, kemudian melewati persawahan yang terbuka, selanjutnya akan masuk ke kebun pohon bambu yang tinggi-tinggi, sehingga jalur rimbun terhindar dari terik matahari, kemudian melewati aliran air, setelah itu akan melewati jalur yang suasananya cukup terbuka dan dipenuhi oleh kebun-kebon warga, salah satunya kebun kopi, setelah melewati kebun kopi, akan melewati kebun sayuran ada kebun kol dan kebun bawang daun. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan masuk hutan dengan tanjakan-tanjakan terjal, kami dari basecamp sampai Tegal Alun menghabiskan waktu sekitar 3 jam 15 menit. Tegal Alun merupakan tempat berkemah sebelum melakukan summit ke puncak, karena memiliki lahan yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda dibanding lahan di yang lainnya. Kami memutuskan untuk beristirahat di Tegal Alun dengan tidur setengah jam untuk memulihkan tenaga karena telah dihantam rasa lelah dan terik matahari dengan kondisi sembari puasa.

Setelah bobo-bobo tampan, kami melanjutkan kembali perjalanan, tujuan selanjutnya menuju Puncak Rakutak, tanjakan semakin terjal dengan melewati batu-batu dan kondisi hutan mulai sudah terbuka. Kami menghabiskan waktu dari Tegal Alun menuju Puncak Rakutak 1 sekitar 45 menit an. Dan perlu berhati-hati juga jalur yang akan dilewati sangat kecil juga kanan dan kiri langsung jurang, terpeleset sedikit hitungannya langsung nyawa. Kami tidak berlama-lama di Puncak 1 karena kondisinya sangat terbuka dan matahari sedang menjadi-jadi panasnya, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke lembahan antara Puncak Rakutak 1 dan Top Rakutak, disitu kondisi nya enak tertutup pohon sehingga teduh untuk santai-santai dan tiduran. Bisa juga mendirikan tenda dengan kapasitas tenda 3-4 tenda saja. Perjalanan dari Puncak Rakutak 1 ke lembahan sekitar 15 menit. Jika ingin pergi ke Top Rakutak atau puncak tertinggi dari Rakutak cukup memerlukan waktu sekitar 5 menit dari lembahan.

Kami tidak banyak melakukan foto-fotoan, jika ingin melihat secara visual tentang perjalanan kami, bisa melihat di instagram ku @bhaktimr atau channel youtube ku Bhakti Muhammad Ramadhan atau bisa diakses melalui link di profil instagram ku.

Gunung ini menyimpan beberapa sejarah penting, yakni gunung ini menjadi saksi dimana terjadi pembantaian warga kaki gunung rakutak oleh DI/TII yang dipimpin oleh Kartosoewirjo dan menjadi saksi pula ketika operasi pagar betis di laksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia. Gunung ini juga digunakan sebagai tempat persembunyian Kartosuwiryo, pimpinan tertinggi DI/TII beserta para pengikutnya.

Pemberontakan dan aktivitas penumpasannya berimbas pada warga yang bermukim di kaki gunung. Jika membantu pemberontak, warga akan berhadapan dengan TNI. Begitu pula sebaliknya. Tak ayal, rasa takut menjalar dalam diri warga. Agar selamat, warga memilih lolondokan atau menjadi bunglon. Siapa pun yang baik kepada kedua belah pihak akan selamat.

Warga kaki gunung pun membentuk Organisasi Keamanan Desa (OKB). Organisasi itu dibentuk guna membantu TNI mengepung anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia yang berada kawasan Gunung Rakutak. Pengepungan dilakukan mengitari gunung tersebut guna memutus jalur logistik DI/TII. Setiap lima meter, dibangun sebuah sawung untuk berjaga. Alhasil, posisi anggota DI/TII semakin terjepit dan kelaparan. Sejumlah anggota DI/TII pun memilih menyerah dan turun gunung. Imam DI/TII Kartosoewirjo akhirnya ditangkap Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi yang dipimpin Komandan Kompi Letnan Dua Suhanda, 4 Juli 1962. Penangkapan dilakukan di sekitar area Gunung Geber yang berbatasan dengan Rakutak. Tertangkapnya Kartosoewirjo mengakhiri pemberontakan DI/TII yang berlangsung belasan tahun.

Sesampai di Top Rakutak dapat melihan Danau Ciharus dari kejauhan. Danau Ciharus sendiri menyimpan banyak cerita masa lalu yang kelam, terutama karena di kawasan ini konon menjadi tempat pelarian para pemberontak DI/TII yang telah dikepung oleh TNI.
Karena terdesak, akhirnya banyak anggota pemberontak yang menceburkan diri ke dalam danau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar