Minggu, 28 Oktober 2018

Kegagalan Mendaki Gunung Tampomas Di Sumedang (Mata Air Cikandung)

Bismillahirrohmanirrohim


Niat awal kami akan menuju Gunung Tampomas dengan jalur yang direkomendasikan, tetapi saudara dari Nissa yang asli warga sana siap akan mengantarkan kami dengan jalur yang berbeda, kami pikir dia sudah hapal betul jalur yang akan kami lalui lewat ceritanya yang sering berburu kesana, namun ternyata ditengah perjalanan berkehendak lain, bukan Gunung Tampomas yang kami tuju, melainkan tidak tahu berada di gunung mana. Tidak ada seorang pun yang kami jumpai selama diperjalanan untuk sekedar menanyakan gunung apa yang kami datangi bahkan saudara Nissa juga tidak tahu. Usut punya usut, bahwa gunung tersebut digunakan warga untuk berburu, terlihat memang dari jalur yang banyak bercabang dan hutan yang masih rimbun dengan tetumbuhan jelatang yang menutup jalur serta hewan pacet yang selalu menemani perjalanan.

Atas rasa penasaran yang tak tertahankan ingin sampai di puncak Gunung Tampomas, kami terus saja menyususuri hutan itu kearah atas, yang penting berjalan menanjak, karena logikanya semua puncak pasti berada diatas, jadi terus saja kami membuka jalur ke atas dengan alakadarnya menggunakan tangan kaki tanpa menggunakan golok. Bukan puncak Gunung Tampomas yang didapati setelah bersusah payah membuka jalur, melainkan lahan datar yang masih saja rimbun pepohohan dan tumbuhan yang menutupi jalur. Ketika melihat waktu sudah terlalu siang, tidak akan benar jika masih dilanjutkan terus, kami memutuskan untuk pulang, ternyata jalur turun lebih sulit tinimbang naik. Jalur turun harus menahan beban dengan jalur yang tidak karuan. Akhirnya setelah 12 jam berjalan terus dan sesekali istirahat sembari mencari jalan, naik lewat mana dan turun pun keluar dari mana. Sudah kesal karena tidak sampai-sampai dengan berjalan kaki, kami pun melihat mobil pick up yang terparkir di depan rumahnya, kami memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan meminta mengantarkan kami pulang, karena sudah lelah tak tertolong, jalan juga sudah digesek tidak bisa lagi diangkat. Sungguh nikmat mendapat transportasi pick up untuk pulang.

Tidak melulu mendapatkan hasil yang diinginkan ketika mendaki gunung, itu berarti mengajarkan bahwa tujuan dari mendaki gunung bukanlah sekedar eksistensi sampai puncak, melainkan dapat pulang kembali ke rumah bertemu keluarga yang sedang menunggu dengan mengharapkan selamat dan dalam keadaan yang sehat walafiat. Tidak perlu terlalu terobsesi melihat postingan orang lain yang keren-keren hingga rela memaksakan kehendak kendatipun membahayakan diri sendiri, karena pada hakikatnya setiap dibalik sebuah perjalanan memiliki sisi kerennya masing-masing tanpa harus seperti orang lain.

Untuk mengganti rasa kecewa gara-gara tidak sampai puncak, kami memutuskan untuk bermain-main dan berenang di mata air Cikandung, yang kebetulan dekat dengan rumah nenek Nissa yang kami tempati sedari sampai di Sumedang. Tinggal berjalan kaki selama 5 menit, akhirnya kami sampai disana dengan keadaan syahdu, tenang dan melihat pemandangan hijau-hijauan dari pematang sawah dan pohon-pohon yang ada disekitar. Air yang segar tidak terlalu dingin ditambah lagi air yang super jernih hingga terlihat dari atas dasarnya, tidak terlalu dalam pula ketinggian airnya membuat bisa siapa saja yang ingin berenang disana. Namun jangan berenang saat sore atau menjelang malam, karena suka banyak ular yang berenang disana.


Selain untuk dipakai berenang atau sekedar menikmati segarnya air, mata air Cikandung juga dimanfaatkan warga sekitar untuk mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangga dan lain-lain disana, uniknya meskipun mencuci dengan menggunakan sabun cuci, air busanya tidak mencemari mata air tersebut, melainkan langsung menghilang busa nya da kembali jernih airnya. Sepertinya mata air Cikandung ini dijadikan sumber kehidupan warga disana selain sebagai tempat wisata, oleh karena itu bagi kalian yang akan mengunjungi kesana, selalu menjaga kebersihan tempat jangan meninggalkan sampah atau apa pun yang mencemari tempat tersebut.




Selasa, 23 Oktober 2018

Pendakian Tektok Gunung Guntur via Citiis Garut

Bismillahirrohmanirrohim



Pendakian sekali jalan pulang pergi tanpa berkemah atau biasa disebut pendakian tektok, bisa menjadi alternatif bagi yang ingin mendaki gunung disela-sela waktu padatnya rutinitas, karena estimasi waktu pendakiannya hanya membutuhkan kurang dari satu hari. Selain menghemat dalam urusan waktu, pendakian tektok juga tidak membebani pendaki dalam membawa barang perlengkapan dan peralatannya yang harus ada didalam tas, tidak perlu berat-berat membawa carrier yang full pack segede kulkas, yang mana itu menguntungkan mampu menghemat tenaga untuk mengefektifkan perjalanan dengan berjalan yang tidak berleha-leha dengan dalih membawa tas yang berat. Selain itu mendaki tektok sedikit untuk mengeluarkan budget; tidak perlu menyewa peralatan, tidak terlalu banyak membeli logistik, dalam SIMAKSI pun biasanya suka setengah harga tinimbang yang akan berkemah.

Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, kekurangan jika mendaki tektok yaitu; tidak bisa terlalu berlama-lama untuk menikmati tempat yang kita kunjungi, perlengkapan dan peralatan yang minim berisiko jika terjadi apa-apa tidak bisa mengatasinya, jadi untuk yang ingin mendaki tektok harus benar-benar siap memperhatikan segala hal apa yang dianggap penting untuk dibawa, seperti jas hujan sangat perlu, kompor dan nesting, tetapi jika yang tidak punya alat tersebut bisa membawa bekel makanan nasi timbel yang dibungkus. Kekurangan selanjutnya kondisi fisik akan sangat capek, karena tubuh diporsir harus langsung menuju puncak dari penitipan kendaraan, sedangkan yang berkemah bisa mengistirahatkan dahulu ditenda dengan merebahkan tubuh.

Jalur pendakian yang kami pilih lewat Citiis, sebab jika lewat Cikahuripan tidak boleh karena daerag cagar alam yang harus dilindungi, dari Bandung langsung ke arah Garut, belokan menuju basecamp Citiis bisa dari Cipanas atau bisa dari dekat lapangan sepak bola Nanjung, ikuti terus jalan tersebut sampai menemukan gapura yang akan ditagih untuk membayar kendaraan, 10.000/motor. Setelah melewati gapura tersebut, kalian bisa memilih meparkirkan kendaraan bebas di rumah warga mana saja, asal melihatkan tiket yang diberi oleh warga yang tadi menagih uang kendaraan.
Disini kalian akan ditagih untuk membayar kendaraan, jika masih bingung untuk sampai sini, kalian bisa bertanya kepada warga sekitar.

Memanfaatkan besoknya tanggal merah ditengah minggu berharap tidak akan terlalu ramai pengunjung yang akan kesana, kami berangkat dari Bandung langsung sepulang kuliah, bahkan ada beberapa orang yang mendadak ingin ikut pada hari itu juga tanpa mempersiapkan diri apapun, itu enaknya mendaki tektok tidak perlu ribet-ribet menyiapkan harus ini itu, yang penting hayu dari kemauan dulu saja. Rencana kami akan menikmati matahari terbit di puncak, itu berarti harus summit langsung dari basecamp menuju puncak, setelah sampai di basecamp malam hari, kami memutuskan bisa santai-santai dan beristirahat dulu mempersiapkan tenaga untuk pendakian yang akan dilakukan tepat pada tengah malam.

Sangat syahdu rasanya mendaki pada malam hari; tidak tersengat langsung oleh teriknya matahari, tidak terlalu ramai di jalur pendakian, tidak ada yang menyetel musik lewat speaker aktif keras-keras yang asa pang aing na dan terpenting tidak ada manusia-manusia yang ceuceuleuweungan dengan bebas. Kendatipun demikian, pendakian malam hari tidak dianjurkan karena berisiko tersesat didalam hutan, karena akan susah untuk bernavigasi darat kecuali ada 1 orang yang sudah hapal betul jalur pendakiannya. Belum lagi, pada malam hari kadar oksigen yang harus kita hirup sangat tipis, karena pada malam hari pohon-pohon akan mengeluarkan karbon dioksida dan menghisap oksigen, jadi saat kita cape dan membutuhkan oksigen yang banyak, harus bersaing dengan pohon-pohon, atau yang ada malah karbon dioksida yang terhisap, hal itu sangat berbahaya bagi paru-paru, jadi jika ingin mendaki malam, usahakan jalan sesantai mungkin jangan terburu-buru, yang ada malah akan cepat capek.

Pos 1 yang harus lapor sambil membayar SIMAKSI

Sebelum mendaki, harus mendaftar dulu dibasecamp, dibasecamp hanya mengisi daftar nama dan jumlah orang yang akan mendaki, kemudian diberi pengarahan sedikit tentang bagaimana yang harus dilakukan, lalu akan diberi selembaran kertas yang harus disimpan hingga pulang sebagai bukti menjadi pendaki yang legal. Kemudian setelah sampai di pos 1, kertas yang dibawa dari basecamp harus dilaporkan di pos 1 sembari membayar simaksi, untuk berkemah 15.000/orang, untuk tektok 7.500/orang. Setelah otu kertas diambil lagi dan menuju pos 3 atau pos terakhir untuk nerkemah. Di pos 3 diisi oleh para volunteer yang berjaga jika terjadi apa-apa, selain itu tugasnya menerima laporan bahwa sudah membayar di pos 1, di pos 3 ini 1 orang dari rombongan kalian harus menitipkan identitas dan akan diberi arahan bagaimana untuk menuju ke puncak, agar barang aman selama muncak, kalian juga bisa menitipkan barang bawaan ke volunteer disni, daripada raib digondol orang lebih baik titipkan disana.

Sudah sampai di pos 3

Toilet basah mempunyai 8 bilik, 4 bilik untuk laki-laki, 4 bilik untuk perempuan

Untuk summit dari pos 3, ada peraturan dari volunteer yang berjaga disana bahwa summit harus dilakukan pukul 3 dinihari, kebetulan kami sampai di pos 3 pukul set 3, jadi bisa menyiapkan terlebih dahulu tenaga untuk menuju puncak dengan jalur pasir batu kerikil yang sangat menyebalkan, namun mengasyikan ketika turun, harus mencobannya tetapi selalu berhati-hati. Di pos 3 ini sekarang sudah nyaman dan aman pokonya, sudah banyak yang diberbenah, mulai dari bulan Agustus sudah ada mushola, sudah ada toilet basah jadi untuk yang kebelet tidak harus lagi pergi kesemak-semak membuat ranjau, untuk mengambil air sekarang tidak usah jauh-jauh lagi harus kebawah menuju aliran air, cukup mengambil dikeran samping mushola. Sedikit mengobrol kepada volunteer atas mengapa tidak bisa lagi kebawah untuk mengambil air? Karena banyak pendaki yang mandi di aliran air tersebut dengan seenaknya, hal itu membuat warga sedikit gusar dan melampiaskannya kepada volunteer sebab aliran air yang dipakai mandi pendaki itu menuju warga kaki Gunung Guntur. Jadi yang ingin mandi di pos 3, kalian bisa mandi di toilet basah yang ada di pos 3. Kemudian saya bertanya lagi, darimana biaya untuk membangun mushola, toilet basah atau mempernyaman pos 3, volunteer menjawab dari hasil mereka menjual pernak-pernik yang mereka jual di pos 3 dan dari hasil penitipan barang, saya awalnya mengira dari uang SIMAKSI yang kami bayar, ternyata sungguh muliah volunteernya, jika berkujung kesana sempatkan membeli pernak-pernik yang mereka jual disana, karena hasil dari penjualannya akan membantu untuk memperbagus lagi di pos 3.

Api unggun yang dibuat oleh volunteer

Setelah cukup beristirahat dan bercengkarama dengan volunteer ditengah api unggung, jam setengah 4 kami melanjutkan untuk muncak, saya khawatir kepada Eneng dan Puput yang baru pertama kali mendaki gunung, baru pertama sudah diajak ke seperti ini. Setelah dijalani dengan sabar serta diming-imingI di puncak akan terlihat bagus, mereka pun terus tetap melanjutkan, walaupun ditengah-tengah pernjalanan hampir menyerah. Ditengah-tengah perjalanan, tidak disangka ada insiden menimpa Nissa yang terkena bebatuan yang lumayan besar mengenai kakinya, hal itu membuatnya meringis kesakitan dan sedikit menangis akibat sakitnya yang dirasa, bagaimana tidak, setelah dibasecamp dan mengecek kakinya, yang Nissa lihat kakinya memar dan bengkak, tapi itu tangguhnya Nissa walaupun sudah begitu, ia tidak menyulutkan semangat untuk mencapai puncak, terus semuanya saling menyupport satu sama lain dan akhirnya kami semua tiba juga di puncak pukul 6 pagi, rasa haru, bahagia terluap sudah ketika berada diatas. Salut kepada 3 srikandi yang bisa berhasil kepuncak dengan berbagai keadaan.



Berada di puncak pertama, puncak kedua yang ada di belakangnya 

Berada di puncak ke dua 

Jalur menuju puncak 3, puncak tertinggi di Gunung Guntur

Puncak 4 dan 5 terlihat dibelakangnya menunu jalur Cikahuripan

Setelah beristirahat, makan, minum kopi, menikmati landscape dan berswafoto untuk memajangkan di sosial media, saya menawarkan mau lanjut ke puncak 2 dan 3? Ada yang sudah ampun, ada yang penasaran ingin kesana, saya antarkan yang ingin kesana, setelah di puncak 2, saya tawarkan lagi mau lanjut ke puncak 3? Ah ampun ketika melihat jalur yang harus dilalui dari puncak 2, harus jalan turun dahulu melewati lembahan, kemudian diberi tanjakan langsung tanpa ampun. Ohiya, Gunung Guntur memilik 5 puncakan, puncakan 4 dan 5 itu mengarah ke Cikahuripan tembus ke Kamojang. Jadi untuk ke Gunung Guntur jangan dihabiskan tenaga dari awal-awal, karena puncakannya ada beberapa dan lumayan tanjakannya yang berpasir. Kendatipun 2249 tapi setelah dicoba yang ada buat kurang ajar, itulah yang menbuat rindu Gunung Guntur.

Jalur turun paling asyik yang dirindukan dari Gunung Guntur, estimasi waktu naik berbanding terbalik dengan turun

Setelah merasa puas berada di puncak, karena matahari juga sangat terik pada waktu itu, kami turun dari puncak pukul 10 pagi dan sampai pos 3 pukul 11, kemudian harus melapor mau turun sambil membawa identitas, tidak lupa juga sampah, karena di basecamp sampah akan ditanyakan. Setelah bersih-bersih di pos 3 akibat debu-debu yang menghantam wajah dan rambut, kami melanjutkan perjalanan ke basecamp dan sampai disana pukul 1 siang, ketika melewati pos 1, kalian harus lapor kembali memastikan anggota kelompoknya lengkap tidak ada yang tertinggal diatas. Kami di basecamp beristirahat dulu, bersih-bersih dulu karena pulang juga masih panas, badan capek belum lagi kurang tidur dari sepulang kuliah. Pada pulul set 3 kami pun berangkat dari basecamp menuju Bandung karena takut kemaleman di jalan, itu pun sedikit memaksakan karena tubuh dirasa masih lelah. Di perjalanan pun sudah ngalenyap-ngalenyap hampir tertidur, apalagi yang mengendarai motor juga sama langsung terkena angin yang membuat makin enak untuk tertidur, ah sepertinya tidak akan bener, daripada terjadi yang tidak diinginkan dijalan, kami pun memutuskan menepi dulu untuk menuntaskan rasa kantuk. Alhamdulillah, semuanya aman tidak terjadi apa-apa pulang dengan selamat sampai tujuan ke rumah masing-masing.





Tepar-tepar lelah+ngantuk akibat ganasnya Gunung Guntur, utamakan tubuh yang prima untuk berkendara. Ingat, ada keluarga yang sedang menantI kalian mengharapkan pulang ke rumah.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Gowes Ke Danau Alam Lestari. Danau Biru dari Kabupaten Bandung Kecamatan Pacet Desa Pangauban

Bismillahirrohmanirrohim



Untuk melepas rasa penat dari rutinitas yang monoton atau hanya sekedar ingin jauh sesaat dari ingar bingar kehidupan kota yang selalu macet tiada henti, tidak perlu biaya mahal apalagi tidak perlu pergi jauh-jauh. Bahkan dengan bersepeda pun bisa dilakukan sekaligus hitung-hitung berolahraga, tinggal modal ada kemauan, kesabaran diperjalanan dan terpenting bisa melawan godaan udara dingin pagi hari yang membuat menarik selimut kembali memilih untuk tidur lagi. Sebab jika tidak berangkat sejak pagi-pagi buta, risikonya di jalan akan tersengat oleh panasnya matahari, belum lagi kalau berangkat sedikit siang tidak akan bisa berlama-lama untuk menikmati tempat yang kita kunjungi karena berbeda dengan memakai motor, memakai sepeda tidak sebentar waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan.

Sangat disayangkan kalau bisa berenang tidak menyempatkan untuk berenang disini, airnya yang berwarna kebiru-biruan tidak terlalu dingin dan tidak terlalu dalam, namun diberapa titik ada yang dalamnya juga, paling 1,5 sampai 2 meteran, jadi harus tetap berhati-hati. Bisa juga bermain gelantungan seperti tarzan, tinggal memakai tali webbing yang diikatkan pada pohon, sebab pohonnya yang menjorok kearah danau, jadi kalo jatuh langsung ke dalam air. Untuk yang tidak bisa berenang tak perlu khawatir, disediakan pula penyewaan rakit dan ban. Bagi yang ingin menikmati lebih lama lagi, disediakan area berkemah lumayan cukup luas bisa mendirikan 5 sampai 10 tenda dan untuk membawa kendaraan bisa dititipkan kepada warga agar bisa lebih aman.

Untuk akses menuju kesana kalian dari Kota Bandung bisa lewat Buah Batu menuju Bojong Soang atau dari Moh Toha menuju Dayeuh Kolot, setelah itu kalian arahkan kendaraan menuju arah Ciparay. Kalian ikuti terus jalan raya hingga menemukan alun-alun Ciparay yang ditandai dengan Mesjid Agung, terminal angkot dan Pasar Ciparay. Setelah itu kalian belok ke kanan, sebab jika lurus akan mengarah ke Majalaya. Kemudian setelah belok kanan, kalian harus lurus terus mengikuti jalan raya sampai Kecamatan Pacet ditandai dengan mengikuti jalan raya yang arah kiri ke Pacet, kalian memilih jalan lurus dengan jalan yang sedikit lebih kecil, ikutin terus jalan Girihirum tersebut jangan belok-belok menuju Desa Pangauban nanti ada belok kanan yang sama ukuran jalannya, jika kalian bingung tanyakan saja pada warga, gampang untuk menemui warga jika kesana, tinggal bilang aja mau ke Danau Alam Lestari, nanti kalian akan ditunjukan jalannya. Mohon maaf sebelumnya saya lupa untuk mendokumentasikan patokan arah belokannya.


Kalau sehabis berenang paling recomend langsung jajan seblak yang ada disana, selain untuk membantu perekonomian warga sekitar, rasanya pun tidak kalah enak apalagi habis tubuh dingin-dingin langsung melahap seblak yang masih panas, ah nikmat rasanya. Terakhir berkunjung kesana, tempatnya sudah banyak yang diperbagus dibandingkan dengan awal pertama kesana, bahkan sekarang sudah ada playground khusus anak kecil, cocok mengajak sekeluarga untuk berpiknik kesini. Semoga tempat ini selalu terjaga, karena hanya satu-satunya tempat untuk para AKAMSI menghabiskan waktu berakhir pekan.


Rabu, 03 Oktober 2018

Bentuk Unik Curug Rahong yang Ada Di Cisewu Kabupaten Garut

Bismillahirrohmanirrohim

Setiap yang hendak mengunjungi Rancabuaya melewati jalur Pangalengan, sudah pasti menemui curug yang satu ini, letaknya pun mudah ditemukan yang berada di pinggir jalan utama setelah menuruni tanjakan curam dan sedikit melewati jembatan yang bawahnya merupakan aliran sungai dari curug tersebut. Nama curug, jembatan dan tanjakannya sama dengan penamaan Rahong, sedangkan untuk nama sungainya berbeda yaitu, Sungai Cibodas. Belum ada tempat parkir yang memadai untuk menyimpan kendaraan disini, jajan saja ke warung yang ada di pinggir jembatan, terus sekalian titipkan kendaraan ke penjaga warung, hitung-hitung kalian membantu perekonomian warga sekitar, kalian bisa mengobrol-ngobrol dengan pemilik warung seputar Curug Rahong maupun tentang Cisewu.

Akses yang enak dilalui untuk menuju Cisewu, lebih enak dan lebih dekat lewat Pangalengan, jika berangkat dari Bandung. Karena jika lewat Garut kota harus muter dahulu ke arah Cikajang kemudian ke arah Bungbulang, terus ke pertigaan Caringin. Sedangkan lewat Pangalengan hanya melewati Cukul dan Talegong, yang mana itu jalannya satu arah terus, dengan pemandangan hamparan kebun teh ketika melewati Pangalengan sampai Talegong. Untuk memakai motor matic diharapkan selalu mengecek kesiap siagaan motor kalian mulai dari oli, mesin dan yang paling penting rem jangan sampai habid kampas remnya, karena jalannya yang naik turun lumayan curam.

Keunikan dari Curug Rahong ini bentuknya yang berundak-undak, dan pada undakan yang paling atas dengan tinggi 10 meter terdapat batu yang menonjol diatas curugnya, sehingga aliran air dari atasnya membagi dua aliran. Tapi saya dan kawan saya tidak menuju kesana, karena sebelumnya tidak sadar kalau ini Curug Rahong, tahu-tahu ketika balik lagi ke warung dan menanyakan kepada seseorang yang akan menuju kesana. Lagipula kami datang kesana sudah terlalu sore, jadi tidak bisa berlama-lama karena perjalanan yang masih jauh, takut kemaleman di jalan, mengingat kami hanya satu motor berdua, dengan melewati jalan-jalan yang tertutup hutan dan gunung, kebayang dong mengerikannya, entah itu begal, entah itu mahluk halus.



Menurut penuturan dari masyarakat sekitar Curug Rahong ada banyak kejadian orang yang tenggelam dan tiba-tiba ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa. Hal ini dikarenakan 'Sang Penunggu' memiliki kekuatan besar yang dapat menyeret orang sedang berenang ke dalam sungai sehingga orang bisa tenggelam dan meninggal, karena tidak bisa bernafas. Kejadiannya berlangsung bukan hanya satu atau dua kali saja namun sudah terjadi berulang kali, dan kebanyakan yang menjadi korban dari orang luar Garut. Menurut masyarakat sekitar, kejadian ini terjadi karena perilaku pengunjung yang kurang tata krama ketika berenang sungai tersebut.


Sudah jelas tertera disana peraturan "DILARANG BERENANG DI AREA INI, KARENA BANYAK KORBAN JIWA YANG MELAYANG SIA-SIA. LEBIH BAIK TIDAK BERENANG DARIPADA NYAWA MELAYANG" Jadi sudah tahukan kalian harus bagaimana jika berkunjung kesana, meskipun dirasa sudah bisa berenang. Jadilah pengunjung yang bijak, jaga etika, sopan serta santun ketika mengunjungi ke tempat yang baru, kendatipun tidak ada orang yang akan kita jumpai ditempat itu.

Jumat, 28 September 2018

Leuwi Tonjong 'Surga Tersemnunyi' di Garut Selatan

Bismillahirrohmanirrohim


Berbicara tentang Garut, tidak melulu identik dengan dodolnya, dorokdoknya, jaket kulitnya, atau pun domba adunya yang hebat-hebat dalam bertarung. Dibalik itu semua, Garut memiliki banyak sekali pesona alam yang menyuguhkan keasriannya untuk dinikmati, tidak hanya Cipanas dan Darajat saja. Bagi saya, wisata alam yang ada Garut cukup lumayan kumplit, gunung yang populer ada PAGUCI (Papandayan, Guntur, Cikuray), punya pantai yang banyak mulai dari Rancabuaya sampai Sancang, situ (danau) tak kalah kerennya, leuwi (sungai) yang bersih, curug (air terjun) yang melimpah banyaknya, serta masih banyak wisata alam yang lainnya.

Salah satunya di Kecamatan Cihurip, disana mempunyai 4 destinasi wisata alam yang berada di 4 desa yang berbeda-beda. Leuwi Tonjong di Desa Jayamukti, Curug Nyogong di Desa Mekarwangi, Curug Cibadak di Desa Cisangkal dan Ranca Hideung di Kampung Sukalila Desa Cihurip. Keempatnya memiliki keindahannya masing-masing, sangat disayangkan jika berkunjung ke Cihurip melewatkan keempat destinasi tersebut, seperti saya bersama kawan saya hanya mengunjungi Leuwi Tonjong saja, karena mepet dengan waktu yang singkat dan perencanaan yang mendadak sedari berangkat jadi untuk kemana-mananya disiapkan selama diperjalanan. Imbasnya jadi terburu-buru mengejar waktu dan hanya sebentar untuk menikmatinya, berbanding terbalik dengan perjuangan yang ditempuh dengan lama.

Akses untuk sampai ke Leuwi Tonjong Desa Jayamukti Kecamatan Cihurip Kabupaten Garut dari arah Garut kota mengambil arah ke Cikajang, setelah sampai di pertigaan Cikajang, kalian harus belok ke kiri yang menuju arah Pameungpeuk dari situ ikuti jalan terus sampai ke Jalan Gunung Gelap, di sebelah kiri ada gapura besar berwarna kuning yang bertuliskan 'Selamat Datang di Kecamatan Cihurip' kalo masuk belok kiri. 
Jika dari daerah Bungbulang kalian yang mengikuti jalan terus akan menemui pertigaan Cikajang, jika ke kiri menuju Garut Kota, kalian harus lurus menuju arah Pameungpeuk.
Setelah masuk gapura Cihurip, kalian terus saja dulu mengikuti jalan tersebut, jalannya pun naik turun melewati gunung, kalian akan melewati belokan yang mengarah ke Curug Nyogong, tapi kalian harus tetap lurus, setelah melewati SDN Cihurip 01 dan puskesmas, tidak lama lagi akan menemui belokan yang ke kanan, kalian harus belok ke kanan, jalan yang menuju Leuwi Tonjong, jika lurus maka akan ke Curug Cibadak. Setelah belok kanan, kalian akan menemui lapangan sepak nola, terus saja ikutin jalan yang mengarah kebawah, dan lama-lama jalan akan semakin mengecil, paling cukup untuk 1 mobil lewat. Ikuti jalan tersebut nanti juga bakal ada tulisan selamat datang di Leuwi Tonjong, jika kalian bingung dI jalan, tanyakan pada warga sekitar banyak ko, dan baik serta ramah warganya. Setelah sampai ada rumah yang dibawahnya warung, kalian bisa menitipkan motor disana, dan di pintu masuk kalian harus membeli tiket. Berhubung saya bersama kawan saya datang pada weekday, jadi tidak ada penjaga tiketnya, jadi gratis. Paling kalau bayar 5.000, parkir 5.000 paling mahal.

Beberapa orang menyebut tempat ini dengan sebutan 'surga tersembunyi' karena letaknya memang jauh dan harus melakukan trekking dulu sekitar 20-25 menitan untuk sampai kebawahnya, itu untuk turun, untuk pulang mungkin bisa lebih dari itu karena harus jalan menanjak. Belum lagi akses kendaraan menuju lokasi ada sebagian jalan yang rusak dan tidak terlalu besar, namun sebagiannya lagi sudah ada yang diperbaiki, sepertinya jika menggunakan kendaraan mobil, akan mempersulit diri sendiri karena tidak memungkinkan untuk dilalui. Paling dititipkan ke rumah warga, selanjutnya kalian harus berjalan kaki menuju lokasinya. Karenan untuk parkir motor juga sedikit lapak parkirnya.

Kerennya dari tempat ini, yaitu aliran air sungainya yang mengalir diantara dua tebing yang tinggi, arusnya pun tenang sangat bersahabat jika ingin berenang, ada penyewaan rakit juga bila ingin ke tengah antara tebing. Namun saat musim kemarau airnya akan sedikit surut dan terlihat bersih, jika musim penghujan, airnya akan banyak tapi sedikit kecoklat-coklatan. Kalian bebas untuk menentukan kesana pada musim apa, setiap musim memiliki kekurangan dan kelebihannya. Namun yang jelas jika kalian akan kesana, tanamkan dari diri kalian masing-masing tidak boleh merusak, menyampah, vandalisme dan kegiatan lainnya yang merugikan Leuwi Tonjong, sebab tempat ini sangar berpotensi jika dikembangkan, akan membatu warga sana dalam hal ekonomi. 

Cung, siapa yang orang Garut? Kalian harus bangga menjadi orang Garut, sebab di Garut banyak potensi alam yang luar bisa, sampai-sampai dari luar kota menyempatkan untuk berlibur di Garut, oleh sebab itu, kalian sebagai orang Garut harus tetap menjaga kelesetariannya agar daya tarik wisatawan semakin banyak dan Kota Garut lebih banyak dikenal, kalau bisa sampai mancanegara.

Mohon maaf ada kekurangan dalam hal dokumentasi tidak mencantumkan patokan belokan-belokannya, karena terburu-buru dengan waktu yang sudah sore, dan mengejar sunset di Puncak Guha. Semoga saya mendeskripsikan arahnya dapat dipahami dan dimengerti serta bermanfaat.


Kamis, 27 September 2018

Mampir Ke Leuwi Jurig Desa Bojong Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut Selatan

Bismillahirrohmanirrohim


Memang pantas tempat ini diberi nama Leuwi Jurig jika dilihat dari cerita dan malapetaka yang kerap terjadi, entah dari siapa awal mula pencetusnya, namun nama asli dari tempat ini yaitu Leuwi Rupit yang merupakan aliran Sungai Cirompang. Kata leuwi diambil dari Bahasa Sunda yang artinya lubuk atau cekungan yang ada di dasar sungai, sedangkan jurig yang berarti hantu. Lokasi Leuwi Jurig berada di Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut. Bisa dilalui dengan 2 akses, bisa melewati dari arah Garut kota menuju Cikajang, bisa melewati dari arah pangalengan menuju Cisewu.

Jika kalian melewati dari arah Garut kota, kalian mengambil arah ke Cikajang, setelah sampai dipertigaan Cikajang yang ke kiri ke Pameungpeuk, kalian harus belok ke kanan yang menuju ke Bungbulang, ikuti jalan raya terus hinggal melewati Cisandaan, Tanjakan Halimun sampai menuju Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, lokasinya sangat mudah dijumpai, kalian setelah melewati jembatan yang lumayan besar dan bawahnya aliran sungai yang banyak batu dan tebing-tebing, berarti kalian sudah sampai, kalian lewati jembatan tersebut, kemudian nanjak sedikit dan ada warung disebelah kiri jalan, disamping warung ada jalan yang menurun, kalian masuk kesana dan dibawah ada parkir kendaraan, bisa pakai motor bisa pakai mobil. Jika kalian mengambil jalan dari Pangalengan, kalian ikuti jalan terus sampai Cisewu, setelah di Cisewu ada pertigaan yang ke kiri mengarah Bungbulang dan ke kanan mengarah Rancabuaya, kalian mengambil ke arah kiri dan ikuti terus jalan tersebut sampai mengarah ke Bungbulang, jika kalian lewat situ lokasinya ada di sebelah kanan jalan dan sebelum jalan raya yang menurun sebelum jembatan. Untuk waktu itu kami tidak bayar tiket masuk soalnya lokasinya sedang ditutup. Paling jika bayar hanya 5.000.

Tempat ini dianggap angker oleh masyarakat sekitar, karena cukup erat hubungannya dengan dunia mistis, konon katanya di bawah jembatan Leuwi Jurig yang letaknya memang di bawah jembatan yang menghubungkan jalan raya terdapat pasar gaib atau tempat berkumpulnya mahluk-mahluk tak kasat mata. Jika mata kalian jeli dengan keadaan sekitar, kalian bisa melihat ada makam, entah makam asli atau pun makam sebagai simbolis. Dan kebetulan tidak lama pada hari itu ketika saya bersama kawan saya ke sana lokasinya sedang ditutup dan masih ada police line, tidak tahu untuk sementara atau selamanya, akibat ada kejadian beberapa hari sebelumnya yaitu seseorang yang meninggal gara-gara tenggelam saat berenang disana, tapi  kami sedikit memberanikan diri mencoba untuk menuju ke sana karena dengan rasa penasaran dari dulu dan sudah jauh-jauh dari rumah sangat lebar kalau tidak mampir.

Aliran air disini memang tenang jika dilihat dari atas sangat menggoda untuk nyebur, tapi perlu diketahui bahwa di bawah sana diantara tebing-tebingnya terdapat cekungan, didalam cekungan itu arusnya sangat kuat dan kencang menarik ke bawah, saking dalamnya ketinggian air disini sampai-sampai arusnya pun tidak terlihat dari atas, mungkin itu penyebab sering terjadinya seseorang yang tenggelam seperti sama halnya dengan Curug Cikaso yang berada di Sukabumi. Ada tempat yang lebih aman untuk berenang atau ingin merasakan segarnya air di sebelah kanan setelah mermarkirkan kendaraan, jika ingin ke spot foto yang diatas arahnya ke arah kiri dan sedikit trekking. Kalian bisa mencari-cari tempat yang aman jika sudah disana.

Bagi kalian yang ingin berenang atau sekedar merasakan airnya, utamakan keselematan dan perlu diingat, tempat yang kalian kunjungi bukan tempat mati, pasti ada kehidupan di atas ini. Selalu berhati-hati dalam berucap, agar tidak menyinggung penunggu dari setiap tempat dan selalu berhati-hati dalam bertindak, pikirkan terlebih dahulu resiko apa yang akan terjadi. Mohon maaf jika tidak melampirkan dokumentasi yang banyak sebagai patokan pintu masuk ataupun sekitaran lokasi, karena terburu-buru dengan waktu yang sudah mulai gelap, dan perjalan masih panjang untuk dilalui. Semoga bisa bermanfaat.

Sabtu, 22 September 2018

Tradisi dan Adat Istiadat Suku Sasak Dusun Sade

Bismillahirrohmanirrohim


Sangat disayangkan rasanya jika berlibur ke Lombok tidak mengunjungi kesini. Dusun yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dusun yang sudah ada sejak 1079 dan hingga sekarang masih mempertahankan adat dan tradisi dari leluhur mereka. Luas dusun yang berukuran 5 hektar dan dihuni oleh 152 kepala keluarga, tiap 1 kepala keluarga menghuni 1 rumah dengan total penduduk sekitar 700 orang dan telah ditempati oleh 15 generasi. Meskipun sudah zaman sudah canggih, mereka masih tetap mempertahankan tradisi leluhur mereka dengan memanfaatkan bahan-bahan alami untuk penghidupan mereka.


Ketika kalian awal masuk, kalian akan mengisi buku tamu, kemudian diantar oleh pemandu dari warga Dusun Sade yang akan menceritakan semua tentang tradisi adat dan bagaimana kehidupan disana, kemudian langsung disuguhkan dengan pertujukan pertarungan oleh 2 pemuda, yaitu Tradisi Presean, Tradisi Peresean merupakan salah satu Tradisi warisan nenek moyang sebagai bagian Upacara adat Suku Sasak (Orang Lombok), asal usul tradisi ini dimulai dari legenda pertarungan sampai mati dua orang laki-laki yang merupakan tunangan dari Ratu Mandalika, disamping itu latar belakang dari tradisi ini adalah pelampiasan Emosi Para Raja di Masa Lampau ketika berperang melawan musuh.

Dengan Melihat Latar belakang Tradisi Presean, bisa dikatakan ini adalain tarian kuno yang merupakan upacara adat dari Suku Sasak yang membawa makna tentang keberanian, ketangkasan dan ketangguhan orang-orang Lombok sebagai petarung. Masyarakat sekitar percaya bahwa setiap darah yang menetes dapat menentukan hujan, semakin banyak tetesan darah semakin banyak peluang untuk terjadinya hujan di Lombok. Bisa dikatakan Presean merupakan Upacara Adat Suku Sasak Untuk mendatangkan hujan

Dalam Tradisi Presean, para peserta tidaklah ditunjuk sebelumnya, dengan kata lain para peserta diambil dari para penontonnya sendiri, dalam pencarian peserta Peresean terdapat istilah Pakembar Tengaq (wasit) yang menunjuk langsung calon petarung dari para penonton, istilah Pepadu yang menunjuk langsung calon lawannya dari penonton yang hadir. pemenang ditentukan apabila ada salah seorang pepadu yang mengeluarkan darah, atau jika keduanya mampu bertahan dan sama-sama kuat pemenang ditentukan melalui skor tertinggi dari pertarungan yang berlangsung selama lima ronde.

Dibawah ini adalah beberapa istilah serta alat yang menjadi bagian dari berlangsungnya Tradisi Presean ini:
- Alat pemukul yang terbuat dari rotan (penjalin)
- Ende sebuah tameng yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau
- Gong Alat musik dengan ukuran besar berbentuk bulat dengan bundara kecil di bagian tengahnya, akan menghasilkan suara mendengung apabila dipukul
- Kendang Alat Musik terbuat dari kayu yang berbentuk silinder dengan dua lubang ditengahnya, kedua lubangnya ditutup oleh kulit sapi/kambing yang telah disamak
- Kajar (Sejenis Seruling)
- Rincik
- Pepadu (petarung) 
- Pakembar Tengaq (wasit tengah)
- Pakembar  Sedi (wasit Pinggir)


Tipe rumah Suku Sasak ada 3 tipe, Bale Bontar yakni untuk rumah dengan keluarga lebih dari satu anak, kedua Bale Podong yakni rumah untuk sepasang suami istri yang baru menikah atau orang tua untuk menghabiskan masa tua, terakhir Bale Tani. Rumah yang mereka huni semua terbuat dari bahan alami, lantai dari tanah liat dicampur kotoran kerbau, dinding dari anyaman bambu dan untuk atap dari daun alang-alang, kuat selama 7 tahun jika benar mengikatnya. Pintu masuknya dibuat rendah, filosofinya agar tamu menghormati pemilik rumahnya dengan cara masuk yang menunduk. Untuk membersihkan lantainya mereka menggunakan kotoran kerbau seminggu sekali. 


Setelah keunikan bangunan, wisatawan yang mampir ke perkampungan ini juga bisa melihat langsung para perempuan menenun kain, yang menjadi pekerjaan sampingan selain bertani. Perempuan yang sudah dikatakan dewasa dan siap dinikahi, jika sudah bisa menenun. Kebanyakan dari berbagai hasil tenun mereka dibuat untuk dijual kepada wisatawan. Masyarakat Dusun Sade sangat senang jika hasil jualan mereka ditawar, maka kalau kaliab ingin membeli disini, kalian harus pintar-pintar bernegosiasi.


Ada tradisi yang menarik sebelum melakukan pernikahan, yaitu tradisi menculik si gadis yang akan dinikahi, cara seperti ini dianggap lebih kesatria dibandingkan harus meminta dengan cara hormat kepada orang tua si gadis. Pencurian tersebut harus dilakukan pada malam hari dan si pemuda harus membawa teman atau kerabat sebagai pengecoh dan saksi serta pengiring supaya proses penculikan tidak terlihat oleh siapapun. Namun, kalau terlihat maka si pemuda harus dikenakan denda oleh pihak keluarga perempuan ataupun desa. Setelah si gadis berhasil diculik, gadis tersebut tidak boleh dibawa langsung ke rumah si pemuda tetapi ke rumah kerabat laki-laki terlebih dahulu. Setelah beberapa malam, keluarga kerabatnya tersebut akan mengirimkan utusan untuk memberitahukan kepada keluarga pihak gadis bahwa anak gadisnya telah diculik.

Proses pemberitahuan ini disebut ‘nyelabar’. Dalam proses ini pun terdapat beberapa peraturan yang harus dilakukan. Nyelabar, Istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan itu dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orangtua pihak lelaki tidak diboleh ikut. Rombongan Nyelabar terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang kekeluarga perempuan. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekedar rasa penghormatan kepada kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila dihalaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan. 

Ketika pasangan pengantin dengan menggunakan baju adat Lombok sang pengantin diarak menuju tempat orang tua si pengantin perempuan sambil berjalan kaki. Sebelum masuk ke pelaminan, pemuda Lombok biasa ‘menculik’ anak gadis yang disukainya. Jika orangtua si gadis setuju dengan pemuda yang akan menikahi anaknya, ia akan memberi tanda dengan cara membasuh kaki pemuda tersebut dengan air sirop atau air kelapa. Sementara jika ia tidak setuju disimbolisasikan dengan membasuh menggunakan air tajin. Jika orangtua gadis tersebut menolak tetapi si pemuda tetap ngotot untuk menikahinya, orangtua si gadis biasanya menetapkan mahar yang tinggi untuk merestui anaknya. Ini sebagai ikatan agar anaknya diperlakukan secara baik.



Dalam pergaulan dengan lawan jenis, dikalangan wanita Lombok terutama remajanya juga dikenal istilah ‘pandai menipu’. Maksudnya, wanita Lombok dikenal memiliki banyak pacar, karena itu ia harus pandai-pandai menyiasati diri agar tidak ketahuan oleh pacar lelakinya yang lain. Malah ada anggapan kalau pacarnya hanya satu berarti tidak laku dan tidak di hormati. Justru bagi wanita Lombok banyak pacar adalah sebagai suatu kebanggaan tersendiri. Ada cerita menarik yang kami kutip ”Biasanya pada saat 2 atau 3 sebelum hari raya idul fitri” Sang pacar akan membawa beberapa hadiah yang di peruntukkan bagi sang gadis, ini lah kelihaian dari perempuan untuk menyiasati pertemuan, karena si lelaki dateng pada waktu yang bersamaan. Awas hati-hati bagi yang punya pacar orang Lombok hehe.

Oh iya, untuk berkunjung kesini tidak ada tarif khusus untuk membayar berapa, diakhir sebelum pulang kita hanya memberi se-ikhlasnya saja kepada pemandu yang mengantar kalian.

Jumat, 14 September 2018

Pulau Kunti Tak Seseram Namanya

Bismillahirrohmanirrohim


Siapa sangka di Sukabumi memiliki pulau yang tak kalah kerennya dibandingkan pulau-pulau tenar yang ada di Indonesia. Meskipun terdengar menyeramkan dari namanya, tetapi berbanding terbalik dengan keindahan yang disuguhkan, tidak tahu jika malam, apakah menyeramkan?

TERBENTUKNYA PULAU KUNTI
Menurut cerita Pak Saman, seseorang yang mengantar kami menuju lokasi. Sejarah Pulau Kunti itu batuan tertua di Pulau Jawa, usianya 65 juta tahun, jadi cikal bakalnya Pulau Jawa tuh Pulau Kunti. Dulu disini diformasi Jampang, didaerah Jampang disebut batuan formasi diyakini bahwa disini palung terdalam didunia, didalam palung tersebut memiliki 2 lempeng, yaitu lempeng benua dan lempeng samudra. Pada suatu saat kedua lempeng tersebut beradu atau tabrakan, akhirnya lempeng samudra kalah, karena lempeng benua cenderung menahan. Jadi setiap terjadi gempa, nabrak, patah yang berulang-ulang, lama-kelamaan jadilah Pulau Kunti, baru rentetan Pulau Jawa dan Pulan Sumatera terbentuk. Di Pulau Kunti itu batuan melange, batuan melange adalah sejenis batuan campuran yang ada di Jawa dan di Sumatera, kenapa Pulang Sumatera terpisah dengan Pulau Jawa? Karena Gunung Krakatau meletus. Itu riwayat kronologis terjadinya Pulau Kunti.

ASAL NAMA PULAU KUNTI
Asal muasal nama dari Pulau Kunti itu, dibawah Pulau Kunti ada gua-gua kecil bolong, jadi kalau dihantam gelombang mengeluarkan gema seperti suara orang tertawa atau perempuan tertawa. Kebetulan ada yang mancing tengah malam tidak sapat-dapat ikan, ada gelombang menghantam gua, terus mendangar suara perempuan tertawa, ah tidak akan salah suara kunti, terus pulang langsung gara-gara ketakutan. Begitu ceritanya diberi nama Pulau Kunti.
.
Uniknya waktu kami datang kesini terdapat burung berwarna putih (saya lupa namanya) yang datang dari Australia, kata Pak Saman asalnya banyak yang bertelur didaerah sini, tapi tidak kalah banyak yang mengambilnya juga. Jika ingin melihat banyak burungnya datang pada bulan Desember, biasanya suka datang berbondong-bondong. Penasaran? Datang coba saat bulan Desember.

Pulau Kunti terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, masih termasuk dalam sekitar Geopark Ciletuh. Dari kota Sukabumi memakan waktu sekitar 4 jam, tinggal google maps saja dan perhatikan petunjuk arah sudah jelas menunjukan arah. Untuk menyebrang ke Pulau Kunti kalian akan berangkat dari Pantai Palangpang, untuk menyewa perahu waktu kami 25.000 pulang pergi dengan lama di perahu sekitar 30 menit. Kalian di Pulau Kunti harus menyiapkan air minum dan makanan sendiri, karena disana masih asri tidak ada warung.


 Tulisan Geopark Ciletuh di Pantai Palangpang

Sedang menenggu jemputan perahu, neduh dulu sambil ngaso dibawah pohon

 Di perahu yang berisi 12 orang, ditambah 2 orang, Pak Saman dan ABK nya

 Pemandangan di tengah perjalanan perahu, melewati Pulau Mandra, batu-batu magma tertua dan burung putih yang datang dari Australia


 Suasana tenang dan sepi di Pulau Kunti, cocok untuk melepas penat dari kesibukan yang monoton

 Merenung dan menikmati suasana di Pulau Kunti

 Panas-panas rugi dong kalau tidak nyemplung ke dalam air, berenang-berenang bebas karena ombaknya tidak terlalu besar, tapi perlu hati-hati jangan ke tengah

Bergaya bak model boyband, narsis dulu sedikit