Rabu, 30 Oktober 2019

Pendakian Gunung Puntang Via Jalur PGPI 2222 MDPL (tektok)

Bismillahirrohmanirrohim

Sudah lama tidak menulis hehe.



13 Juni 2019

Pendakian tektok kali ini dilakukan h+8 setelah Hari Raya Idul Fitri. Tidak banyak mempersiapkan segala hal, hanya berencana mendaki pulang pergi dan memasak liwet diatas. Dan ini akibatnya jika ceroboh dalam melupakan pentingnya sebuah persiapan atau perencanaan untuk pendakian gunung. Sudah mah terbatasnya waktu, terus ditambah lupa waktu saking menikmatinya suasana, tidak sadar jika waktu sudah mulai petang dan masih diatas, sehingga pendakian turun dilakukan sampai gelap malam. Karena tidak mempersiapkan akan sampai malam, akhirnya perjalanan turun pun tidak menggunakan senter atau headlamp, mengandalkan flash dari ponsel.

Tidak sadar juga kalau hari itu bertepatan dengan Hari Kamis, berarti kami turun pada malam Jumat. Suasana perjalanan cukup mencekam, hampir saja kami memilih jalur yang salah untuk turun, bahkan kata rombongan pendaki yang tak sengaja bersua ditengah perjalanan mengatakan “awas hati-hati, tadi kami melihat seekor ‘kucing’ melintas dijalur, tunggu dulu biar lewat duluan” sejak diberitahu hal tersebut, perjalanan kami semakin tak karuan. Akhirnya, berdoa, berpikir positif dan berjalan secara rapat berlima saling menjaga satu sama lain. 

Kurangnya persiapan membuat kami kewalahan, sudah barang tentu kaki tremor, dan kawan ku Tian tulang keringnya beradu dengan batu, syukur alhamdulillah sampai turun lagi ke tempat parkir tidak terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan. 

Setelah sampai di parkiran, menyempatkan mengobrol dengan Abah dan menanyakan kebenerannya meong tersebut, ternyata memang ada keberadaannya, meong tersebut kerap melintas dijalur pendakian hanya malam selasa dan malam jumat saja, ujar Si Abah. Dan tidak akan menganggu, hanya sekedar melintas, lanjut Abah.

Pembelajaran yang didapatkan pada pendakian kali ini:

Jangan menganggap enteng semua gunung, hingga larut mengabaikan pentingnya sebuah persiapan dan perencanaan juga manajemen perjalanan. Sebab, dalam mendaki gunung kita selalu berjalan berdampingan dengan segala marabahaya yang mengintai. Waspadalah, waspadalah!

Untuk ingin melihat selengkapnya dokumentasi, bisa dilihat langsung dichannel youtube ku, Bhakti Muhammad Ramadhan

Estimasi waktu dari Pos PGPI sampai puncak sekitar 4-5 jam, tergantung kecepatan berjalan, fisik dan lama nya beristirahat. Tidak adak sumber air. Lahan untuk camping tidak terlalu luas. Uniknya, pos di Gunung Puntang dibalik, jadi pos 1 nya berada diatas pos sebelum menuju puncak, dan tempat camp yang ideal, ada di pos 1 dan pos 2.

Jika ingin bertanya, silahkan ajukan dikolom komentar, ya.

Selasa, 04 Juni 2019

Pendakian Bulan Puasa Ke Gunung Rakutak 1957 MDPL (Pendek-pendek Menyakitkan)

Bismillahirrohmanirrohim


18 Juni 2019

Pendakian bulan ramadhan saukur niat ngabuburit, tapi saking ngabuburit na nepika burit teuing, indit ti isuk jedur balik-balik nepi ka sore jeder. Cukup sakali keur pangalaman, moal-moal deui ngaririmpuh diri, katampi pisan tikoro seret jeung biwir haseum, syukur alhamdulillah, untung na tiasa tuntas.

Dibalik menyiksanya pendakian dibulan ramadhan, ternyata terdapat nikmatnya, yakni tidak usah berat-berat membawa air minum, kemudian merasakan nikmat sunyi dan heningnya gunung, hanya ada suara-suara jejak langkah, hewan dan desiran angin, sebab disepanjang jalur dan keberadaan orang-orang yang mendaki pun jumlahnya sedikit atau malah tidak ada. Lalu, dalam mendakinya pun berjalan perlahan dengan sangat-sangat nyantai, tidak ngabret terburu-buru, lantaran kalau rurusuhan yang ada malah cepat haus, jadi akan lebih menikmati makna dari sebuah perjalanan. Selanjutnya, mendaki dibulan ramadhan juga meminimalisir membuang sampah di gunung atau malas membawa turun kembali sampah dengan mengimplementasikan pendakian zero waste atau pendakian tanpa menghasilkan sampah, yaiya lah, percuma bawa logistik senikmat dan sebanyak mungkin juga tidak akan bermanfaat, yang ada malah jadi ngagogoda.

Namun, semuanya kembali lagi pada diri sendiri, sekiranya kondisi fisik tidak memungkin mah, jangan terlalu obsesi memaksakan diri, omat, bilih teu tiasa lebaran ngaleeut kupat sareng opor hayam oge kueh salju.

Gunung Rakutak terletak di Desa Sukarame Kecamatan Pcaet Kabupaten Bandung atau sekitar 1,5-2 jam perjalanan menggunakan kendaraan dari kota Bandung. Dari Kota Bandung bisa diakses lewat Moh Toha atau Buah Batu untuk menuju kearah Ciparay, setelah sampai di Alun-alun Ciparay lalu tinggal belok ke arah kanan dan lanjut terus mengikuti jalan hingga ke atas. Untuk melihat kondisi jalannya sampai ke basecamp  bisa lihat di channel youtube ku, jangan lupa like dan suscribe juga, ya. Bisa juga menggunakan angkutan umum dari pusat kota naik angkot jurusan Tega lega - Ciparay kemudian turun di Terminal Ciparay. Setelah itu, dari Terminal Ciparay bisa menggunakan angkot kuning jurusan Ciparay - Pacet - Santosa, bilang aja ke si mang nya mau turun di basecamp rakuak, nanti oleh si mang nya diberhentian di gapura yang menuju basecamp rakutak. Oh iya, basecamp nya sedikit tersembunyi dari jalan, sedikit masuk gang, jadi jika tidak menemukan, tinggal bertanya saja kepada warga sekitar, masih banyak warga yang ditemui disana. 

Pendakian dimulai dari basecamp pukul 08.00 pagi, menurutku memulai pendakian untuk tektok terlalu siang, karena jika mendaki tektok, harus berkejar-kejar dengan waktu, agar tidak terlalu siang di puncak dan agar tidak kehujanan diwaktu sore hari taktkal melanjutkan perjalanan turun gunung. Tapi, ini tujuannya untuk pendakian ngabuburit, supaya sudah turun gunung tidak terlalu lama untuk menunggu adzan maghrib dan untungnya semesta sedang berpihak pada kami, hujan pun tidak kunjung datang hingga kami kembali ke basecamp, syukur. Tidak tahu kalau hujan, sepertinya bakal menambah penderitaan dengan jalur seperti itu.

Jalur pendakian Gunung Rakutak dimulai dari basecamp akan melewati rumah warga dengan masuk ke gang-gang, kemudian melewati persawahan yang terbuka, selanjutnya akan masuk ke kebun pohon bambu yang tinggi-tinggi, sehingga jalur rimbun terhindar dari terik matahari, kemudian melewati aliran air, setelah itu akan melewati jalur yang suasananya cukup terbuka dan dipenuhi oleh kebun-kebon warga, salah satunya kebun kopi, setelah melewati kebun kopi, akan melewati kebun sayuran ada kebun kol dan kebun bawang daun. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan masuk hutan dengan tanjakan-tanjakan terjal, kami dari basecamp sampai Tegal Alun menghabiskan waktu sekitar 3 jam 15 menit. Tegal Alun merupakan tempat berkemah sebelum melakukan summit ke puncak, karena memiliki lahan yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda dibanding lahan di yang lainnya. Kami memutuskan untuk beristirahat di Tegal Alun dengan tidur setengah jam untuk memulihkan tenaga karena telah dihantam rasa lelah dan terik matahari dengan kondisi sembari puasa.

Setelah bobo-bobo tampan, kami melanjutkan kembali perjalanan, tujuan selanjutnya menuju Puncak Rakutak, tanjakan semakin terjal dengan melewati batu-batu dan kondisi hutan mulai sudah terbuka. Kami menghabiskan waktu dari Tegal Alun menuju Puncak Rakutak 1 sekitar 45 menit an. Dan perlu berhati-hati juga jalur yang akan dilewati sangat kecil juga kanan dan kiri langsung jurang, terpeleset sedikit hitungannya langsung nyawa. Kami tidak berlama-lama di Puncak 1 karena kondisinya sangat terbuka dan matahari sedang menjadi-jadi panasnya, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke lembahan antara Puncak Rakutak 1 dan Top Rakutak, disitu kondisi nya enak tertutup pohon sehingga teduh untuk santai-santai dan tiduran. Bisa juga mendirikan tenda dengan kapasitas tenda 3-4 tenda saja. Perjalanan dari Puncak Rakutak 1 ke lembahan sekitar 15 menit. Jika ingin pergi ke Top Rakutak atau puncak tertinggi dari Rakutak cukup memerlukan waktu sekitar 5 menit dari lembahan.

Kami tidak banyak melakukan foto-fotoan, jika ingin melihat secara visual tentang perjalanan kami, bisa melihat di instagram ku @bhaktimr atau channel youtube ku Bhakti Muhammad Ramadhan atau bisa diakses melalui link di profil instagram ku.

Gunung ini menyimpan beberapa sejarah penting, yakni gunung ini menjadi saksi dimana terjadi pembantaian warga kaki gunung rakutak oleh DI/TII yang dipimpin oleh Kartosoewirjo dan menjadi saksi pula ketika operasi pagar betis di laksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia. Gunung ini juga digunakan sebagai tempat persembunyian Kartosuwiryo, pimpinan tertinggi DI/TII beserta para pengikutnya.

Pemberontakan dan aktivitas penumpasannya berimbas pada warga yang bermukim di kaki gunung. Jika membantu pemberontak, warga akan berhadapan dengan TNI. Begitu pula sebaliknya. Tak ayal, rasa takut menjalar dalam diri warga. Agar selamat, warga memilih lolondokan atau menjadi bunglon. Siapa pun yang baik kepada kedua belah pihak akan selamat.

Warga kaki gunung pun membentuk Organisasi Keamanan Desa (OKB). Organisasi itu dibentuk guna membantu TNI mengepung anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia yang berada kawasan Gunung Rakutak. Pengepungan dilakukan mengitari gunung tersebut guna memutus jalur logistik DI/TII. Setiap lima meter, dibangun sebuah sawung untuk berjaga. Alhasil, posisi anggota DI/TII semakin terjepit dan kelaparan. Sejumlah anggota DI/TII pun memilih menyerah dan turun gunung. Imam DI/TII Kartosoewirjo akhirnya ditangkap Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi yang dipimpin Komandan Kompi Letnan Dua Suhanda, 4 Juli 1962. Penangkapan dilakukan di sekitar area Gunung Geber yang berbatasan dengan Rakutak. Tertangkapnya Kartosoewirjo mengakhiri pemberontakan DI/TII yang berlangsung belasan tahun.

Sesampai di Top Rakutak dapat melihan Danau Ciharus dari kejauhan. Danau Ciharus sendiri menyimpan banyak cerita masa lalu yang kelam, terutama karena di kawasan ini konon menjadi tempat pelarian para pemberontak DI/TII yang telah dikepung oleh TNI.
Karena terdesak, akhirnya banyak anggota pemberontak yang menceburkan diri ke dalam danau.

Rabu, 15 Mei 2019

Pendakian Gunung Patuha atau Gunung Sepuh Sanghyang Buruan (Sunan Ibu Sunan Rama)

Bismillahirrohmanirrohim


Gunung Patuha secara harfiah, berasal dari kata “Patua” atau “Pak Tua” atau orang sana menyebutnya Gunung Sepuh, sepuh diambil dari Bahasa Sunda yang berarti “tua”. Disebut Gunung Sepuh antara lain karena di sana ada beberapa makam leluhur, yakni makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom dan Eyang Jambrong.

Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha memiliki cerita rakyat yang angker. Jika ada seekor burung yang terbang diatas Kawah Putih, maka burung tersebut akan mati bila melintas di atas kawah. Namun, belakangan diketahui untuk membuktikan hal tersebut secara ilmiah, dilakukanlah penelitian pada tahun 1837 oleh Dr. Frans Wilhelm Junghuhn ahli botanis Belanda kelahiran Jerman. Hasil penelitiannya berhasil mengungkap bahwa kandungan fumarol belerang yang sangat tinggi di Kawah Putih lah yang menyebabkan burung-burung mati jika melintasi danau kawah. Berkat penelitiannya juga, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun pabrik belerang Zwavel Ontgining-Kawah Putih.

Puncak sebelah utara danau kawah, ada Sunan Rama. Patilasan Prabu Siliwangi, tempat istirahatnya, juga tempat berkumpulnya para leluhur. Di puncak itu ada lekukan, itulah tempatnya. Lokasi itu bersebelahan dengan Kawah Saat. Kata “saat” dalam Bahasa Sunda yang berarti kering. Kawah ini, diyakini terbentuk saat letusan pertama Gunung Patuha. Sedangkan Kawah Putih terbentuk ketika letusan kedua. Sejumlah literatur mencatat, letusan Gunung Patuha diperkirakan terjadi sekitar abad 10 dan 12 silam. Di puncak sebelah Barat Kawah Putih, ada petilasan Sunan Ibu. Ceritanya lebih kurang sama dengan Sunan Rama.

Berada di ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C, akses ke puncak Gunung Patuha, Kecamatan Ciwidey, Bandung Selatan tak lah rumit. 

Dari Bandung bisa lewat Tol Soroja, keluar di pintu Tol Soreang. Ambil arah Ciwidey, terus ikuti jalur tersebut karena hanya satu arah jadi tidak usah bulak-belok. Di kanan kiri jalan yang berliku dan turun naik, Kalian bisa menikmati hamparan kebun strawberry.  Sekitar 20 hingga 30 menit dari Alun-alun Ciwidey, petunjuk jalan akan memandu Anda menuju gerbang objek wisata Kawah Putih. Dari pintu gerbang ke Puncak Patuha untuk melihat keindahan danau kawah, jaraknya sekira 5,6 km. Hanya 10 hingga 15 menit bila menggunakan kendaraan. Medannya menanjak. Cukup curam dan sempit. Kurang lihai, kendaraan kalian bisa mundur karena tak mampu naik. Bila naik transportasi publik, dari Kota Bandung naik angkutan umum tujuan Ciwidey. Dari Ciwidey disambung angkutan pedesaan tujuan Situ Patengan. Bilang saja sama sopirnya, “mau ke kawah putih, mang” maka Kalian akan diturunkan persis di pintu gerbangnya. 

Atau bisa lewat tanpa masuk gerbang kawah putih, terbilang lebih irit dibiaya, tidak usah membayar mahal-mahal.

Kalian bisa lewat dari Desa Cipanganten Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung. Dari gapura tulisan Rancabali, sebelum gapura ada belokan ke kiri menyusuri kebun teh yang jalannya rusak parah berbatu, kalian ikuti terus jalan tersebut sampai menemui pertigaan. Setelah menemui pertigaan, kalian ambil belok ke kiri ke arah yang turunan sedikit, dan ikuti jalan tersebut sampai di desa terakhir tempat menitipkan kendaraan bermotor.

Untuk hikingnya pun tidak lama, sekitar 1,5-2 jam an. Dan jalurnya pun sudah jelas, menyusuri kebun warga, menyusuri sedikit hutan dan menyusuri kebun teh. Jika kalian bingung diperjalanan, bisa tanyakan saja ke petani disana yang sedang bekerja, nanti bakal dikasih tahu arah jalannya.
  
Lazimnya kawah gunung berapi pada umumnya, yang mengeluarkan aroma lava belerang dan gas, begitu pulalah Kawah Putih. Aroma belerangnya cukup menyengat. Macam bau kentut. Jadihati-hati jangan terlalu lama diam di puncak, jika bau belerang sudah menyengat, hendaknya segera turun kembali ke bawah.  



Long time tidak niis dan berkemah, sekalinya niis dan berkemah langsung long time, 3 hari 2 malam tanpa ada orang lain lagi. Ditambah suasana didekat danau, bisa ngojay, bisa oge ngala buyur bilih bade diternak keun, mangga.

Selengkapnya bisa menonton dichannel youtube ku, okey. Link: https://m.youtube.com/channel/UCWQX0LfzEhQPPY0ILK8dAPw

Atau untuk memudahkan, bisa liat di profil ig: bhaktimr ada link tinggal di klik.

Minggu, 14 April 2019

Curug Cikaso yang Mistis nan Eksotis

Bismillahirrohmanirrohim

Curug Mistis nan Eksotis.

Curug yang memiliki lebar yang cukup luas sekitar 100 meter dengan ketinggian 50 meter. Terdapat tiga saluran air yang bermuara pada satu kolam yang berada di bawahnya. Tiga aliran air tersebut memiliki nama sendiri, yakni Curug Meong, Curug Aseupan, dan Curug Aki dengan volume air yang cukup besar, apalagi jika datang ketika musim penghujan, jalur jalan kaki untuk mencapai curug tersebut bisa sampai terendam oleh sungai, hingga harus menggunakan perahu untuk sampai disana.

Kawasan Curug Cikaso masih terbilang sangat asri, terletak di tengah hutan dan tebing-tebing air terjun yang tumbuh pepohonan lebat. Selain itu, aliran air di kolamnya juga terlihat indah dan cukup jernih, ikan-ikan pun masih terlihat, sehingga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk memancing. Sangat menggoda dan membuat tidak sedikit pengunjung yang langsung ingin terjun berenang, termasuk kami. Tetapi, tidak sembarang bisa berenang, ada kolam khusus yang diperbolehkan untuk berenang. Karena kolam yang dekat curug tersebut kerap terjadi malapetaka sampai hilangnya nyawa seseorang.

Mitos Curug Cikaso yang paling banyak dipercayai adalah bahwa air terjun tersebut merupakan tempat pesunggihan Nyi Blorong. Masyarakat sekitar percaya bahwa masing-masing curug memiliki penunggunya. Curug Aseupan ditunggui oleh Nyi Blorong, Curug Meong oleh Eyang Santang, dan Aki oleh Prabu Siliwangi. Tidak jarang juga, pengunjung yang mengalami kesurupan, hingga kemunculan ular besar yang mengagetkan dari curug besar tersebut.

Karena kerap terjadinya malapetaka di Curug Cikaso, kini terpampang peringatan dengan tulisan “Anda berenang, Anda mati”. Selain memang cukup dalam, dikhawatirkan juga terjadi hal mistis atau mitos lain yang tidak diinginkan.


Meski kematian seseorang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, bukan berarti harus harus mempercayai peringatan tersebut, kalian masih bisa berenang disana, asalkan dibatas aman berenang, selalu bertanya dan meminta izin kepada orang yang menjaga disana, juga   jaga sikap serta etika kalian.

Curug Cikaso terletak di Kampung Ciniti Desa Cibitung Kecamatan Jampang Kulon Kabupaten Sukabumi. Untuk menuju sampai sini, petunjuknya sudah jelas jadi tidak akan sulit untuk ditemukan. Akan lebih enak menggunakan kendaraan motor.

Setelah sampai di pintu masuk Curug Cikaso, kalian bisa memilih untuk sampai ke curug nya, bisa berjalan kaki melewati persawahanan dan pohon-pohon atau bisa juga menggunakan perahu untuk sampai disana, terkadang jalur jalan kaki akan terendam oleh aliran sungainya, jika sedang surut bisa dengan berjalan kaki hanya 20 menitan, jika serang naik, dengan terpaksa harus menggunakan perahu, untuk biaya perahu saya tidak tahu karena saya memilih untuk berjalan kaki, mungkin sekitar 20-40rb per orang untuk pulang pergi.

Dermaga untuk menggunakan perahu

Perjalanan dengan berjalan kaki akan melewati persawahan

Dan melewati pohon-pohon



Rabu, 20 Maret 2019

Tips Menghemat Pengeluaran Biaya Ketika Berlibur atau Liburan Dengan Low Budget

Bismillahirrohmanirrohim



Rasa penat atau jenuh dari kehidupan hiruk pikuk keadaan di kota kerap dirasakan setiap manusia, bisa karena macetnya di jalan maupun dari rutinitas aktivitas yang monoton itu-itu saja yang menjadi repitiai dari sehari-hari, fatalnya bisa menyerang kondisi mental seseorang yang tiap hari kian tertekan. Miria, jika harus berlarut-larut dalam rasa kejenuhan atau kepenatan yang selalu mengentayang. Bahkan seorang dokter pun tidak mampu mengatasi hal tersebut dengan obat-obatan, kalau pun ada yang pasti obat-obatan yang berdampak negatif dan hanya nikmat sesaat. Hanya ada satu cara yang bisa dikatakan ampuh untuk mengatasi masalah tersebut, yakni dengan LIBURAN COYYYY.

Dengan liburan dijamin rasa penat atau pun rasa jenuh bisa menghilang, sebab dengan terbebas dari kekangan aktivitaa yang menoton semua beban akan sirna tatkala memandang keindahan alam semesta yang amat sangat luas. Namun, biasanya liburan tidak semudah dan segampang yang dibayangkan, kecuali bagi kamu-kaun berduit banyak yang bertolak belakang dengan saya. Saya ingin membuka mindset bahwa yang tidak memiliki uang yang cukup bisa merasakan liburan yang sama, membebaskan stigma jika ingin liburan harus punya uang yang banyak dulu. Kendala liburan juga bukan hanya dari uang, kadang masalah waktu yang tidak pas, kadang masalah restu perizinan dari orang tua atau suami atau istri, kadang teman-teman perjalanan yang harus menyesuaikan dengan yang bisa. Ada uang, tidak ada waktu. Ada waktu, tidak ada uang. Ada uang dan waktu, tidak dapat restu izin pergi, Ada uang, waktu, direstui, teman-teman pada tidak bisa. Memang rumit mau liburan juga, maka dari itu semuanya harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum hari H nya dengan perencanaan yang matang.

Dalam liburan hal yang harus diperhatikan hanya 4; transport, penginapan, makan serta biaya tempat wisata. Untuk menghemat pengeluar harus ada yang diminimalisir dalam pengeluaran, bisa dari transport, penginepan, makan atau biaya tempat wisata. Secara rincinya akan dijelaskan sebagai berikut.

Kali ini saya akan mencoba memberikan tips cara bagaimana liburan tanpa mengluarkan uang banyak hasil dari pengalaman saya berlibur:

1. Diskusikan dengan Travelmate kalian
Usahakan liburan dengan mengajak banyak teman-teman, dengan banyak teman-teman maka kalau ada biaya patungan tidak terlalu berat jika dibagi banyak orang. Diskusikan tentang perencanaan liburan, mulai dari akan kemana, untuk berapa lama, mencari waktu yang cocoo dengan semua teman-teman, mencari informasi terkait pengeluaran yang harus dikeluarkan mulai; biaya transport, tempat wisata yang hendak dikunjungi, penginepan dan lain sebagainya melalui googling. Menyiapkan rencana A dan Rencana B kalau terjadi sesuati yang tidak diinginkan, jadi agar tidak bingung lagi. Perhitungkan semuanya agar perencanaan siap dengan matang.

2. Transport
Transportasi menjadi penunjang keberangkatan untuk berlibur, bisa menggunakan kendaraan pribadi atau memakai kendaraan umum. Bebas mau memilih hemat yang lebih mana. Jika menggunakan transport kendaraan umum, kalian bisa mengurangi pengeluaran dengan tiket promo yang dipesan jauh-jauh hari atau memilih kelas yang ekonomi atau juga bisa dengan nebeng ke truk jika banyak orang, atau nebeng ke kendaraan pribadi jika berlibur 1-3 orang. Kecuali jika punya uang lebih bisa menggunakan pesawat, lebih menghemat waktu, tenaga dan kondisi fisik.

3. Penginapan
Penginapan menjadi hal yang harus dipikirkan jika pergi ke suatu tempat, sebab tubuh juga perlu diistirahatkan, jangan sampai niat liburan, malah sakit ditempat liburan. Dalam memilih penginepan kalian bisa melakukan patungan dengan travelmate kalian, pilih yang paling murah, yang penting ada kamar mandi dan kasur juga stop kontak, tidak perlu mewah karena hanya tinggal untuk sementara waktu. Bahkan masih ada penginapan yang menawarkan dibawah 100rb. Jika ingin meminimalisir penginapan, kalian bisa memilih menginap di masjid, mushola pom bensin, menggelar matras di teras rumah orang lain atau ruko orang lain atau memasang tenda, yang penting bisa tidur malam. Cari ditempat yang anan, jangan ditempat yang sepi.

4. Makan
Makan juga tidak kalah penting, karena makan merupakan menjadi sumber tenaga untuk melakukan aktivitas liburan. Untuk hal makan, kalian harus pintar-pintar mencari makanan yang murah, jangan mikir makan enak dan kenyang, yang penting ada asupan makanan yang masuk dalam tubuh dan jangan biarkan perut kosong, yang penting ada nasinya, tidak peduli dengan lauknya meskipun hanya dengan kerupuk, sebab nasi merupakan sumber karbohidart yang lumayan tinggi untuk menahan rasa lapar ketimbang jajan snack-snack yang tidak jelas kandungan gizinya. Bisa makan di warteg dengan stelan dibawah 10rb. Atau jika ingin menghemat bisa bekal dari rumah kompor portable, gas dengan nesting, lalu membawa bahan bakanan dari rumah yang tahan lama, kemudian memasak sendiri. Disarankan bawa sereal atau oats yang lebih mudah disajikan dengan kandungan gizi yang baik, ketimbang membawa mie instan. Atau kalau ingin lebih hemat lagi, mencari makanan sisa-sisa orang lain yang tidak dihabiskan.

5. Tempat Wisata
Tujuan berlibur tentunya pergi ke tempat wisata yang diinginkan, namun sayangnya, tempat-tempat wisata yang ingin didatangi terbentur dengan harga tiket masuk yang mahal. Pilihlah tempat wisata yang murah dengan tidak mengenyampingkan pemandangan yang indah, masih banyak di alam semesta ini yang indah yang belum dijamah orang atau yang dijaga oleh pihak-pihak swasta yang menjadikan alam sebagai komersial ladang mencari uang. Tapi kalau ingin ngebet kesitu, mau tidak mau harus meminimalisir pengeluaran dari transport, penginepan, dan makan, jangan mikir oleh-oleh, sebab bisa hidup tempat yang jauh dari rumah juga sudah syukur.

Pengeluaran akan lebih hemat jika ditempat yang kita tuju punya kenalan atau teman yang bisa menjamu kedatangan kalian, gunakan sosial media dengan bijak, dengan mencari teman didaerah sekitar, siapa tau ada yang mau membantu dalam segi materi atau pun non-materi.

Sekian dari saya, mudah-mudahan tulisan ini dapat bermanfaat dan membantu kalian yang ingin berlibur tapi terbentur dengan dana. Salam hangat dari saya yang sedang ngopi dan ngudud. Terimakasih.

Minggu, 28 Oktober 2018

Kegagalan Mendaki Gunung Tampomas Di Sumedang (Mata Air Cikandung)

Bismillahirrohmanirrohim


Niat awal kami akan menuju Gunung Tampomas dengan jalur yang direkomendasikan, tetapi saudara dari Nissa yang asli warga sana siap akan mengantarkan kami dengan jalur yang berbeda, kami pikir dia sudah hapal betul jalur yang akan kami lalui lewat ceritanya yang sering berburu kesana, namun ternyata ditengah perjalanan berkehendak lain, bukan Gunung Tampomas yang kami tuju, melainkan tidak tahu berada di gunung mana. Tidak ada seorang pun yang kami jumpai selama diperjalanan untuk sekedar menanyakan gunung apa yang kami datangi bahkan saudara Nissa juga tidak tahu. Usut punya usut, bahwa gunung tersebut digunakan warga untuk berburu, terlihat memang dari jalur yang banyak bercabang dan hutan yang masih rimbun dengan tetumbuhan jelatang yang menutup jalur serta hewan pacet yang selalu menemani perjalanan.

Atas rasa penasaran yang tak tertahankan ingin sampai di puncak Gunung Tampomas, kami terus saja menyususuri hutan itu kearah atas, yang penting berjalan menanjak, karena logikanya semua puncak pasti berada diatas, jadi terus saja kami membuka jalur ke atas dengan alakadarnya menggunakan tangan kaki tanpa menggunakan golok. Bukan puncak Gunung Tampomas yang didapati setelah bersusah payah membuka jalur, melainkan lahan datar yang masih saja rimbun pepohohan dan tumbuhan yang menutupi jalur. Ketika melihat waktu sudah terlalu siang, tidak akan benar jika masih dilanjutkan terus, kami memutuskan untuk pulang, ternyata jalur turun lebih sulit tinimbang naik. Jalur turun harus menahan beban dengan jalur yang tidak karuan. Akhirnya setelah 12 jam berjalan terus dan sesekali istirahat sembari mencari jalan, naik lewat mana dan turun pun keluar dari mana. Sudah kesal karena tidak sampai-sampai dengan berjalan kaki, kami pun melihat mobil pick up yang terparkir di depan rumahnya, kami memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan meminta mengantarkan kami pulang, karena sudah lelah tak tertolong, jalan juga sudah digesek tidak bisa lagi diangkat. Sungguh nikmat mendapat transportasi pick up untuk pulang.

Tidak melulu mendapatkan hasil yang diinginkan ketika mendaki gunung, itu berarti mengajarkan bahwa tujuan dari mendaki gunung bukanlah sekedar eksistensi sampai puncak, melainkan dapat pulang kembali ke rumah bertemu keluarga yang sedang menunggu dengan mengharapkan selamat dan dalam keadaan yang sehat walafiat. Tidak perlu terlalu terobsesi melihat postingan orang lain yang keren-keren hingga rela memaksakan kehendak kendatipun membahayakan diri sendiri, karena pada hakikatnya setiap dibalik sebuah perjalanan memiliki sisi kerennya masing-masing tanpa harus seperti orang lain.

Untuk mengganti rasa kecewa gara-gara tidak sampai puncak, kami memutuskan untuk bermain-main dan berenang di mata air Cikandung, yang kebetulan dekat dengan rumah nenek Nissa yang kami tempati sedari sampai di Sumedang. Tinggal berjalan kaki selama 5 menit, akhirnya kami sampai disana dengan keadaan syahdu, tenang dan melihat pemandangan hijau-hijauan dari pematang sawah dan pohon-pohon yang ada disekitar. Air yang segar tidak terlalu dingin ditambah lagi air yang super jernih hingga terlihat dari atas dasarnya, tidak terlalu dalam pula ketinggian airnya membuat bisa siapa saja yang ingin berenang disana. Namun jangan berenang saat sore atau menjelang malam, karena suka banyak ular yang berenang disana.


Selain untuk dipakai berenang atau sekedar menikmati segarnya air, mata air Cikandung juga dimanfaatkan warga sekitar untuk mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangga dan lain-lain disana, uniknya meskipun mencuci dengan menggunakan sabun cuci, air busanya tidak mencemari mata air tersebut, melainkan langsung menghilang busa nya da kembali jernih airnya. Sepertinya mata air Cikandung ini dijadikan sumber kehidupan warga disana selain sebagai tempat wisata, oleh karena itu bagi kalian yang akan mengunjungi kesana, selalu menjaga kebersihan tempat jangan meninggalkan sampah atau apa pun yang mencemari tempat tersebut.




Selasa, 23 Oktober 2018

Pendakian Tektok Gunung Guntur via Citiis Garut

Bismillahirrohmanirrohim



Pendakian sekali jalan pulang pergi tanpa berkemah atau biasa disebut pendakian tektok, bisa menjadi alternatif bagi yang ingin mendaki gunung disela-sela waktu padatnya rutinitas, karena estimasi waktu pendakiannya hanya membutuhkan kurang dari satu hari. Selain menghemat dalam urusan waktu, pendakian tektok juga tidak membebani pendaki dalam membawa barang perlengkapan dan peralatannya yang harus ada didalam tas, tidak perlu berat-berat membawa carrier yang full pack segede kulkas, yang mana itu menguntungkan mampu menghemat tenaga untuk mengefektifkan perjalanan dengan berjalan yang tidak berleha-leha dengan dalih membawa tas yang berat. Selain itu mendaki tektok sedikit untuk mengeluarkan budget; tidak perlu menyewa peralatan, tidak terlalu banyak membeli logistik, dalam SIMAKSI pun biasanya suka setengah harga tinimbang yang akan berkemah.

Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, kekurangan jika mendaki tektok yaitu; tidak bisa terlalu berlama-lama untuk menikmati tempat yang kita kunjungi, perlengkapan dan peralatan yang minim berisiko jika terjadi apa-apa tidak bisa mengatasinya, jadi untuk yang ingin mendaki tektok harus benar-benar siap memperhatikan segala hal apa yang dianggap penting untuk dibawa, seperti jas hujan sangat perlu, kompor dan nesting, tetapi jika yang tidak punya alat tersebut bisa membawa bekel makanan nasi timbel yang dibungkus. Kekurangan selanjutnya kondisi fisik akan sangat capek, karena tubuh diporsir harus langsung menuju puncak dari penitipan kendaraan, sedangkan yang berkemah bisa mengistirahatkan dahulu ditenda dengan merebahkan tubuh.

Jalur pendakian yang kami pilih lewat Citiis, sebab jika lewat Cikahuripan tidak boleh karena daerag cagar alam yang harus dilindungi, dari Bandung langsung ke arah Garut, belokan menuju basecamp Citiis bisa dari Cipanas atau bisa dari dekat lapangan sepak bola Nanjung, ikuti terus jalan tersebut sampai menemukan gapura yang akan ditagih untuk membayar kendaraan, 10.000/motor. Setelah melewati gapura tersebut, kalian bisa memilih meparkirkan kendaraan bebas di rumah warga mana saja, asal melihatkan tiket yang diberi oleh warga yang tadi menagih uang kendaraan.
Disini kalian akan ditagih untuk membayar kendaraan, jika masih bingung untuk sampai sini, kalian bisa bertanya kepada warga sekitar.

Memanfaatkan besoknya tanggal merah ditengah minggu berharap tidak akan terlalu ramai pengunjung yang akan kesana, kami berangkat dari Bandung langsung sepulang kuliah, bahkan ada beberapa orang yang mendadak ingin ikut pada hari itu juga tanpa mempersiapkan diri apapun, itu enaknya mendaki tektok tidak perlu ribet-ribet menyiapkan harus ini itu, yang penting hayu dari kemauan dulu saja. Rencana kami akan menikmati matahari terbit di puncak, itu berarti harus summit langsung dari basecamp menuju puncak, setelah sampai di basecamp malam hari, kami memutuskan bisa santai-santai dan beristirahat dulu mempersiapkan tenaga untuk pendakian yang akan dilakukan tepat pada tengah malam.

Sangat syahdu rasanya mendaki pada malam hari; tidak tersengat langsung oleh teriknya matahari, tidak terlalu ramai di jalur pendakian, tidak ada yang menyetel musik lewat speaker aktif keras-keras yang asa pang aing na dan terpenting tidak ada manusia-manusia yang ceuceuleuweungan dengan bebas. Kendatipun demikian, pendakian malam hari tidak dianjurkan karena berisiko tersesat didalam hutan, karena akan susah untuk bernavigasi darat kecuali ada 1 orang yang sudah hapal betul jalur pendakiannya. Belum lagi, pada malam hari kadar oksigen yang harus kita hirup sangat tipis, karena pada malam hari pohon-pohon akan mengeluarkan karbon dioksida dan menghisap oksigen, jadi saat kita cape dan membutuhkan oksigen yang banyak, harus bersaing dengan pohon-pohon, atau yang ada malah karbon dioksida yang terhisap, hal itu sangat berbahaya bagi paru-paru, jadi jika ingin mendaki malam, usahakan jalan sesantai mungkin jangan terburu-buru, yang ada malah akan cepat capek.

Pos 1 yang harus lapor sambil membayar SIMAKSI

Sebelum mendaki, harus mendaftar dulu dibasecamp, dibasecamp hanya mengisi daftar nama dan jumlah orang yang akan mendaki, kemudian diberi pengarahan sedikit tentang bagaimana yang harus dilakukan, lalu akan diberi selembaran kertas yang harus disimpan hingga pulang sebagai bukti menjadi pendaki yang legal. Kemudian setelah sampai di pos 1, kertas yang dibawa dari basecamp harus dilaporkan di pos 1 sembari membayar simaksi, untuk berkemah 15.000/orang, untuk tektok 7.500/orang. Setelah otu kertas diambil lagi dan menuju pos 3 atau pos terakhir untuk nerkemah. Di pos 3 diisi oleh para volunteer yang berjaga jika terjadi apa-apa, selain itu tugasnya menerima laporan bahwa sudah membayar di pos 1, di pos 3 ini 1 orang dari rombongan kalian harus menitipkan identitas dan akan diberi arahan bagaimana untuk menuju ke puncak, agar barang aman selama muncak, kalian juga bisa menitipkan barang bawaan ke volunteer disni, daripada raib digondol orang lebih baik titipkan disana.

Sudah sampai di pos 3

Toilet basah mempunyai 8 bilik, 4 bilik untuk laki-laki, 4 bilik untuk perempuan

Untuk summit dari pos 3, ada peraturan dari volunteer yang berjaga disana bahwa summit harus dilakukan pukul 3 dinihari, kebetulan kami sampai di pos 3 pukul set 3, jadi bisa menyiapkan terlebih dahulu tenaga untuk menuju puncak dengan jalur pasir batu kerikil yang sangat menyebalkan, namun mengasyikan ketika turun, harus mencobannya tetapi selalu berhati-hati. Di pos 3 ini sekarang sudah nyaman dan aman pokonya, sudah banyak yang diberbenah, mulai dari bulan Agustus sudah ada mushola, sudah ada toilet basah jadi untuk yang kebelet tidak harus lagi pergi kesemak-semak membuat ranjau, untuk mengambil air sekarang tidak usah jauh-jauh lagi harus kebawah menuju aliran air, cukup mengambil dikeran samping mushola. Sedikit mengobrol kepada volunteer atas mengapa tidak bisa lagi kebawah untuk mengambil air? Karena banyak pendaki yang mandi di aliran air tersebut dengan seenaknya, hal itu membuat warga sedikit gusar dan melampiaskannya kepada volunteer sebab aliran air yang dipakai mandi pendaki itu menuju warga kaki Gunung Guntur. Jadi yang ingin mandi di pos 3, kalian bisa mandi di toilet basah yang ada di pos 3. Kemudian saya bertanya lagi, darimana biaya untuk membangun mushola, toilet basah atau mempernyaman pos 3, volunteer menjawab dari hasil mereka menjual pernak-pernik yang mereka jual di pos 3 dan dari hasil penitipan barang, saya awalnya mengira dari uang SIMAKSI yang kami bayar, ternyata sungguh muliah volunteernya, jika berkujung kesana sempatkan membeli pernak-pernik yang mereka jual disana, karena hasil dari penjualannya akan membantu untuk memperbagus lagi di pos 3.

Api unggun yang dibuat oleh volunteer

Setelah cukup beristirahat dan bercengkarama dengan volunteer ditengah api unggung, jam setengah 4 kami melanjutkan untuk muncak, saya khawatir kepada Eneng dan Puput yang baru pertama kali mendaki gunung, baru pertama sudah diajak ke seperti ini. Setelah dijalani dengan sabar serta diming-imingI di puncak akan terlihat bagus, mereka pun terus tetap melanjutkan, walaupun ditengah-tengah pernjalanan hampir menyerah. Ditengah-tengah perjalanan, tidak disangka ada insiden menimpa Nissa yang terkena bebatuan yang lumayan besar mengenai kakinya, hal itu membuatnya meringis kesakitan dan sedikit menangis akibat sakitnya yang dirasa, bagaimana tidak, setelah dibasecamp dan mengecek kakinya, yang Nissa lihat kakinya memar dan bengkak, tapi itu tangguhnya Nissa walaupun sudah begitu, ia tidak menyulutkan semangat untuk mencapai puncak, terus semuanya saling menyupport satu sama lain dan akhirnya kami semua tiba juga di puncak pukul 6 pagi, rasa haru, bahagia terluap sudah ketika berada diatas. Salut kepada 3 srikandi yang bisa berhasil kepuncak dengan berbagai keadaan.



Berada di puncak pertama, puncak kedua yang ada di belakangnya 

Berada di puncak ke dua 

Jalur menuju puncak 3, puncak tertinggi di Gunung Guntur

Puncak 4 dan 5 terlihat dibelakangnya menunu jalur Cikahuripan

Setelah beristirahat, makan, minum kopi, menikmati landscape dan berswafoto untuk memajangkan di sosial media, saya menawarkan mau lanjut ke puncak 2 dan 3? Ada yang sudah ampun, ada yang penasaran ingin kesana, saya antarkan yang ingin kesana, setelah di puncak 2, saya tawarkan lagi mau lanjut ke puncak 3? Ah ampun ketika melihat jalur yang harus dilalui dari puncak 2, harus jalan turun dahulu melewati lembahan, kemudian diberi tanjakan langsung tanpa ampun. Ohiya, Gunung Guntur memilik 5 puncakan, puncakan 4 dan 5 itu mengarah ke Cikahuripan tembus ke Kamojang. Jadi untuk ke Gunung Guntur jangan dihabiskan tenaga dari awal-awal, karena puncakannya ada beberapa dan lumayan tanjakannya yang berpasir. Kendatipun 2249 tapi setelah dicoba yang ada buat kurang ajar, itulah yang menbuat rindu Gunung Guntur.

Jalur turun paling asyik yang dirindukan dari Gunung Guntur, estimasi waktu naik berbanding terbalik dengan turun

Setelah merasa puas berada di puncak, karena matahari juga sangat terik pada waktu itu, kami turun dari puncak pukul 10 pagi dan sampai pos 3 pukul 11, kemudian harus melapor mau turun sambil membawa identitas, tidak lupa juga sampah, karena di basecamp sampah akan ditanyakan. Setelah bersih-bersih di pos 3 akibat debu-debu yang menghantam wajah dan rambut, kami melanjutkan perjalanan ke basecamp dan sampai disana pukul 1 siang, ketika melewati pos 1, kalian harus lapor kembali memastikan anggota kelompoknya lengkap tidak ada yang tertinggal diatas. Kami di basecamp beristirahat dulu, bersih-bersih dulu karena pulang juga masih panas, badan capek belum lagi kurang tidur dari sepulang kuliah. Pada pulul set 3 kami pun berangkat dari basecamp menuju Bandung karena takut kemaleman di jalan, itu pun sedikit memaksakan karena tubuh dirasa masih lelah. Di perjalanan pun sudah ngalenyap-ngalenyap hampir tertidur, apalagi yang mengendarai motor juga sama langsung terkena angin yang membuat makin enak untuk tertidur, ah sepertinya tidak akan bener, daripada terjadi yang tidak diinginkan dijalan, kami pun memutuskan menepi dulu untuk menuntaskan rasa kantuk. Alhamdulillah, semuanya aman tidak terjadi apa-apa pulang dengan selamat sampai tujuan ke rumah masing-masing.





Tepar-tepar lelah+ngantuk akibat ganasnya Gunung Guntur, utamakan tubuh yang prima untuk berkendara. Ingat, ada keluarga yang sedang menantI kalian mengharapkan pulang ke rumah.