Minggu, 28 Oktober 2018

Kegagalan Mendaki Gunung Tampomas Di Sumedang (Mata Air Cikandung)

Bismillahirrohmanirrohim


Niat awal kami akan menuju Gunung Tampomas dengan jalur yang direkomendasikan, tetapi saudara dari Nissa yang asli warga sana siap akan mengantarkan kami dengan jalur yang berbeda, kami pikir dia sudah hapal betul jalur yang akan kami lalui lewat ceritanya yang sering berburu kesana, namun ternyata ditengah perjalanan berkehendak lain, bukan Gunung Tampomas yang kami tuju, melainkan tidak tahu berada di gunung mana. Tidak ada seorang pun yang kami jumpai selama diperjalanan untuk sekedar menanyakan gunung apa yang kami datangi bahkan saudara Nissa juga tidak tahu. Usut punya usut, bahwa gunung tersebut digunakan warga untuk berburu, terlihat memang dari jalur yang banyak bercabang dan hutan yang masih rimbun dengan tetumbuhan jelatang yang menutup jalur serta hewan pacet yang selalu menemani perjalanan.

Atas rasa penasaran yang tak tertahankan ingin sampai di puncak Gunung Tampomas, kami terus saja menyususuri hutan itu kearah atas, yang penting berjalan menanjak, karena logikanya semua puncak pasti berada diatas, jadi terus saja kami membuka jalur ke atas dengan alakadarnya menggunakan tangan kaki tanpa menggunakan golok. Bukan puncak Gunung Tampomas yang didapati setelah bersusah payah membuka jalur, melainkan lahan datar yang masih saja rimbun pepohohan dan tumbuhan yang menutupi jalur. Ketika melihat waktu sudah terlalu siang, tidak akan benar jika masih dilanjutkan terus, kami memutuskan untuk pulang, ternyata jalur turun lebih sulit tinimbang naik. Jalur turun harus menahan beban dengan jalur yang tidak karuan. Akhirnya setelah 12 jam berjalan terus dan sesekali istirahat sembari mencari jalan, naik lewat mana dan turun pun keluar dari mana. Sudah kesal karena tidak sampai-sampai dengan berjalan kaki, kami pun melihat mobil pick up yang terparkir di depan rumahnya, kami memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan meminta mengantarkan kami pulang, karena sudah lelah tak tertolong, jalan juga sudah digesek tidak bisa lagi diangkat. Sungguh nikmat mendapat transportasi pick up untuk pulang.

Tidak melulu mendapatkan hasil yang diinginkan ketika mendaki gunung, itu berarti mengajarkan bahwa tujuan dari mendaki gunung bukanlah sekedar eksistensi sampai puncak, melainkan dapat pulang kembali ke rumah bertemu keluarga yang sedang menunggu dengan mengharapkan selamat dan dalam keadaan yang sehat walafiat. Tidak perlu terlalu terobsesi melihat postingan orang lain yang keren-keren hingga rela memaksakan kehendak kendatipun membahayakan diri sendiri, karena pada hakikatnya setiap dibalik sebuah perjalanan memiliki sisi kerennya masing-masing tanpa harus seperti orang lain.

Untuk mengganti rasa kecewa gara-gara tidak sampai puncak, kami memutuskan untuk bermain-main dan berenang di mata air Cikandung, yang kebetulan dekat dengan rumah nenek Nissa yang kami tempati sedari sampai di Sumedang. Tinggal berjalan kaki selama 5 menit, akhirnya kami sampai disana dengan keadaan syahdu, tenang dan melihat pemandangan hijau-hijauan dari pematang sawah dan pohon-pohon yang ada disekitar. Air yang segar tidak terlalu dingin ditambah lagi air yang super jernih hingga terlihat dari atas dasarnya, tidak terlalu dalam pula ketinggian airnya membuat bisa siapa saja yang ingin berenang disana. Namun jangan berenang saat sore atau menjelang malam, karena suka banyak ular yang berenang disana.


Selain untuk dipakai berenang atau sekedar menikmati segarnya air, mata air Cikandung juga dimanfaatkan warga sekitar untuk mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangga dan lain-lain disana, uniknya meskipun mencuci dengan menggunakan sabun cuci, air busanya tidak mencemari mata air tersebut, melainkan langsung menghilang busa nya da kembali jernih airnya. Sepertinya mata air Cikandung ini dijadikan sumber kehidupan warga disana selain sebagai tempat wisata, oleh karena itu bagi kalian yang akan mengunjungi kesana, selalu menjaga kebersihan tempat jangan meninggalkan sampah atau apa pun yang mencemari tempat tersebut.




Selasa, 23 Oktober 2018

Pendakian Tektok Gunung Guntur via Citiis Garut

Bismillahirrohmanirrohim



Pendakian sekali jalan pulang pergi tanpa berkemah atau biasa disebut pendakian tektok, bisa menjadi alternatif bagi yang ingin mendaki gunung disela-sela waktu padatnya rutinitas, karena estimasi waktu pendakiannya hanya membutuhkan kurang dari satu hari. Selain menghemat dalam urusan waktu, pendakian tektok juga tidak membebani pendaki dalam membawa barang perlengkapan dan peralatannya yang harus ada didalam tas, tidak perlu berat-berat membawa carrier yang full pack segede kulkas, yang mana itu menguntungkan mampu menghemat tenaga untuk mengefektifkan perjalanan dengan berjalan yang tidak berleha-leha dengan dalih membawa tas yang berat. Selain itu mendaki tektok sedikit untuk mengeluarkan budget; tidak perlu menyewa peralatan, tidak terlalu banyak membeli logistik, dalam SIMAKSI pun biasanya suka setengah harga tinimbang yang akan berkemah.

Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, kekurangan jika mendaki tektok yaitu; tidak bisa terlalu berlama-lama untuk menikmati tempat yang kita kunjungi, perlengkapan dan peralatan yang minim berisiko jika terjadi apa-apa tidak bisa mengatasinya, jadi untuk yang ingin mendaki tektok harus benar-benar siap memperhatikan segala hal apa yang dianggap penting untuk dibawa, seperti jas hujan sangat perlu, kompor dan nesting, tetapi jika yang tidak punya alat tersebut bisa membawa bekel makanan nasi timbel yang dibungkus. Kekurangan selanjutnya kondisi fisik akan sangat capek, karena tubuh diporsir harus langsung menuju puncak dari penitipan kendaraan, sedangkan yang berkemah bisa mengistirahatkan dahulu ditenda dengan merebahkan tubuh.

Jalur pendakian yang kami pilih lewat Citiis, sebab jika lewat Cikahuripan tidak boleh karena daerag cagar alam yang harus dilindungi, dari Bandung langsung ke arah Garut, belokan menuju basecamp Citiis bisa dari Cipanas atau bisa dari dekat lapangan sepak bola Nanjung, ikuti terus jalan tersebut sampai menemukan gapura yang akan ditagih untuk membayar kendaraan, 10.000/motor. Setelah melewati gapura tersebut, kalian bisa memilih meparkirkan kendaraan bebas di rumah warga mana saja, asal melihatkan tiket yang diberi oleh warga yang tadi menagih uang kendaraan.
Disini kalian akan ditagih untuk membayar kendaraan, jika masih bingung untuk sampai sini, kalian bisa bertanya kepada warga sekitar.

Memanfaatkan besoknya tanggal merah ditengah minggu berharap tidak akan terlalu ramai pengunjung yang akan kesana, kami berangkat dari Bandung langsung sepulang kuliah, bahkan ada beberapa orang yang mendadak ingin ikut pada hari itu juga tanpa mempersiapkan diri apapun, itu enaknya mendaki tektok tidak perlu ribet-ribet menyiapkan harus ini itu, yang penting hayu dari kemauan dulu saja. Rencana kami akan menikmati matahari terbit di puncak, itu berarti harus summit langsung dari basecamp menuju puncak, setelah sampai di basecamp malam hari, kami memutuskan bisa santai-santai dan beristirahat dulu mempersiapkan tenaga untuk pendakian yang akan dilakukan tepat pada tengah malam.

Sangat syahdu rasanya mendaki pada malam hari; tidak tersengat langsung oleh teriknya matahari, tidak terlalu ramai di jalur pendakian, tidak ada yang menyetel musik lewat speaker aktif keras-keras yang asa pang aing na dan terpenting tidak ada manusia-manusia yang ceuceuleuweungan dengan bebas. Kendatipun demikian, pendakian malam hari tidak dianjurkan karena berisiko tersesat didalam hutan, karena akan susah untuk bernavigasi darat kecuali ada 1 orang yang sudah hapal betul jalur pendakiannya. Belum lagi, pada malam hari kadar oksigen yang harus kita hirup sangat tipis, karena pada malam hari pohon-pohon akan mengeluarkan karbon dioksida dan menghisap oksigen, jadi saat kita cape dan membutuhkan oksigen yang banyak, harus bersaing dengan pohon-pohon, atau yang ada malah karbon dioksida yang terhisap, hal itu sangat berbahaya bagi paru-paru, jadi jika ingin mendaki malam, usahakan jalan sesantai mungkin jangan terburu-buru, yang ada malah akan cepat capek.

Pos 1 yang harus lapor sambil membayar SIMAKSI

Sebelum mendaki, harus mendaftar dulu dibasecamp, dibasecamp hanya mengisi daftar nama dan jumlah orang yang akan mendaki, kemudian diberi pengarahan sedikit tentang bagaimana yang harus dilakukan, lalu akan diberi selembaran kertas yang harus disimpan hingga pulang sebagai bukti menjadi pendaki yang legal. Kemudian setelah sampai di pos 1, kertas yang dibawa dari basecamp harus dilaporkan di pos 1 sembari membayar simaksi, untuk berkemah 15.000/orang, untuk tektok 7.500/orang. Setelah otu kertas diambil lagi dan menuju pos 3 atau pos terakhir untuk nerkemah. Di pos 3 diisi oleh para volunteer yang berjaga jika terjadi apa-apa, selain itu tugasnya menerima laporan bahwa sudah membayar di pos 1, di pos 3 ini 1 orang dari rombongan kalian harus menitipkan identitas dan akan diberi arahan bagaimana untuk menuju ke puncak, agar barang aman selama muncak, kalian juga bisa menitipkan barang bawaan ke volunteer disni, daripada raib digondol orang lebih baik titipkan disana.

Sudah sampai di pos 3

Toilet basah mempunyai 8 bilik, 4 bilik untuk laki-laki, 4 bilik untuk perempuan

Untuk summit dari pos 3, ada peraturan dari volunteer yang berjaga disana bahwa summit harus dilakukan pukul 3 dinihari, kebetulan kami sampai di pos 3 pukul set 3, jadi bisa menyiapkan terlebih dahulu tenaga untuk menuju puncak dengan jalur pasir batu kerikil yang sangat menyebalkan, namun mengasyikan ketika turun, harus mencobannya tetapi selalu berhati-hati. Di pos 3 ini sekarang sudah nyaman dan aman pokonya, sudah banyak yang diberbenah, mulai dari bulan Agustus sudah ada mushola, sudah ada toilet basah jadi untuk yang kebelet tidak harus lagi pergi kesemak-semak membuat ranjau, untuk mengambil air sekarang tidak usah jauh-jauh lagi harus kebawah menuju aliran air, cukup mengambil dikeran samping mushola. Sedikit mengobrol kepada volunteer atas mengapa tidak bisa lagi kebawah untuk mengambil air? Karena banyak pendaki yang mandi di aliran air tersebut dengan seenaknya, hal itu membuat warga sedikit gusar dan melampiaskannya kepada volunteer sebab aliran air yang dipakai mandi pendaki itu menuju warga kaki Gunung Guntur. Jadi yang ingin mandi di pos 3, kalian bisa mandi di toilet basah yang ada di pos 3. Kemudian saya bertanya lagi, darimana biaya untuk membangun mushola, toilet basah atau mempernyaman pos 3, volunteer menjawab dari hasil mereka menjual pernak-pernik yang mereka jual di pos 3 dan dari hasil penitipan barang, saya awalnya mengira dari uang SIMAKSI yang kami bayar, ternyata sungguh muliah volunteernya, jika berkujung kesana sempatkan membeli pernak-pernik yang mereka jual disana, karena hasil dari penjualannya akan membantu untuk memperbagus lagi di pos 3.

Api unggun yang dibuat oleh volunteer

Setelah cukup beristirahat dan bercengkarama dengan volunteer ditengah api unggung, jam setengah 4 kami melanjutkan untuk muncak, saya khawatir kepada Eneng dan Puput yang baru pertama kali mendaki gunung, baru pertama sudah diajak ke seperti ini. Setelah dijalani dengan sabar serta diming-imingI di puncak akan terlihat bagus, mereka pun terus tetap melanjutkan, walaupun ditengah-tengah pernjalanan hampir menyerah. Ditengah-tengah perjalanan, tidak disangka ada insiden menimpa Nissa yang terkena bebatuan yang lumayan besar mengenai kakinya, hal itu membuatnya meringis kesakitan dan sedikit menangis akibat sakitnya yang dirasa, bagaimana tidak, setelah dibasecamp dan mengecek kakinya, yang Nissa lihat kakinya memar dan bengkak, tapi itu tangguhnya Nissa walaupun sudah begitu, ia tidak menyulutkan semangat untuk mencapai puncak, terus semuanya saling menyupport satu sama lain dan akhirnya kami semua tiba juga di puncak pukul 6 pagi, rasa haru, bahagia terluap sudah ketika berada diatas. Salut kepada 3 srikandi yang bisa berhasil kepuncak dengan berbagai keadaan.



Berada di puncak pertama, puncak kedua yang ada di belakangnya 

Berada di puncak ke dua 

Jalur menuju puncak 3, puncak tertinggi di Gunung Guntur

Puncak 4 dan 5 terlihat dibelakangnya menunu jalur Cikahuripan

Setelah beristirahat, makan, minum kopi, menikmati landscape dan berswafoto untuk memajangkan di sosial media, saya menawarkan mau lanjut ke puncak 2 dan 3? Ada yang sudah ampun, ada yang penasaran ingin kesana, saya antarkan yang ingin kesana, setelah di puncak 2, saya tawarkan lagi mau lanjut ke puncak 3? Ah ampun ketika melihat jalur yang harus dilalui dari puncak 2, harus jalan turun dahulu melewati lembahan, kemudian diberi tanjakan langsung tanpa ampun. Ohiya, Gunung Guntur memilik 5 puncakan, puncakan 4 dan 5 itu mengarah ke Cikahuripan tembus ke Kamojang. Jadi untuk ke Gunung Guntur jangan dihabiskan tenaga dari awal-awal, karena puncakannya ada beberapa dan lumayan tanjakannya yang berpasir. Kendatipun 2249 tapi setelah dicoba yang ada buat kurang ajar, itulah yang menbuat rindu Gunung Guntur.

Jalur turun paling asyik yang dirindukan dari Gunung Guntur, estimasi waktu naik berbanding terbalik dengan turun

Setelah merasa puas berada di puncak, karena matahari juga sangat terik pada waktu itu, kami turun dari puncak pukul 10 pagi dan sampai pos 3 pukul 11, kemudian harus melapor mau turun sambil membawa identitas, tidak lupa juga sampah, karena di basecamp sampah akan ditanyakan. Setelah bersih-bersih di pos 3 akibat debu-debu yang menghantam wajah dan rambut, kami melanjutkan perjalanan ke basecamp dan sampai disana pukul 1 siang, ketika melewati pos 1, kalian harus lapor kembali memastikan anggota kelompoknya lengkap tidak ada yang tertinggal diatas. Kami di basecamp beristirahat dulu, bersih-bersih dulu karena pulang juga masih panas, badan capek belum lagi kurang tidur dari sepulang kuliah. Pada pulul set 3 kami pun berangkat dari basecamp menuju Bandung karena takut kemaleman di jalan, itu pun sedikit memaksakan karena tubuh dirasa masih lelah. Di perjalanan pun sudah ngalenyap-ngalenyap hampir tertidur, apalagi yang mengendarai motor juga sama langsung terkena angin yang membuat makin enak untuk tertidur, ah sepertinya tidak akan bener, daripada terjadi yang tidak diinginkan dijalan, kami pun memutuskan menepi dulu untuk menuntaskan rasa kantuk. Alhamdulillah, semuanya aman tidak terjadi apa-apa pulang dengan selamat sampai tujuan ke rumah masing-masing.





Tepar-tepar lelah+ngantuk akibat ganasnya Gunung Guntur, utamakan tubuh yang prima untuk berkendara. Ingat, ada keluarga yang sedang menantI kalian mengharapkan pulang ke rumah.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Gowes Ke Danau Alam Lestari. Danau Biru dari Kabupaten Bandung Kecamatan Pacet Desa Pangauban

Bismillahirrohmanirrohim



Untuk melepas rasa penat dari rutinitas yang monoton atau hanya sekedar ingin jauh sesaat dari ingar bingar kehidupan kota yang selalu macet tiada henti, tidak perlu biaya mahal apalagi tidak perlu pergi jauh-jauh. Bahkan dengan bersepeda pun bisa dilakukan sekaligus hitung-hitung berolahraga, tinggal modal ada kemauan, kesabaran diperjalanan dan terpenting bisa melawan godaan udara dingin pagi hari yang membuat menarik selimut kembali memilih untuk tidur lagi. Sebab jika tidak berangkat sejak pagi-pagi buta, risikonya di jalan akan tersengat oleh panasnya matahari, belum lagi kalau berangkat sedikit siang tidak akan bisa berlama-lama untuk menikmati tempat yang kita kunjungi karena berbeda dengan memakai motor, memakai sepeda tidak sebentar waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan.

Sangat disayangkan kalau bisa berenang tidak menyempatkan untuk berenang disini, airnya yang berwarna kebiru-biruan tidak terlalu dingin dan tidak terlalu dalam, namun diberapa titik ada yang dalamnya juga, paling 1,5 sampai 2 meteran, jadi harus tetap berhati-hati. Bisa juga bermain gelantungan seperti tarzan, tinggal memakai tali webbing yang diikatkan pada pohon, sebab pohonnya yang menjorok kearah danau, jadi kalo jatuh langsung ke dalam air. Untuk yang tidak bisa berenang tak perlu khawatir, disediakan pula penyewaan rakit dan ban. Bagi yang ingin menikmati lebih lama lagi, disediakan area berkemah lumayan cukup luas bisa mendirikan 5 sampai 10 tenda dan untuk membawa kendaraan bisa dititipkan kepada warga agar bisa lebih aman.

Untuk akses menuju kesana kalian dari Kota Bandung bisa lewat Buah Batu menuju Bojong Soang atau dari Moh Toha menuju Dayeuh Kolot, setelah itu kalian arahkan kendaraan menuju arah Ciparay. Kalian ikuti terus jalan raya hingga menemukan alun-alun Ciparay yang ditandai dengan Mesjid Agung, terminal angkot dan Pasar Ciparay. Setelah itu kalian belok ke kanan, sebab jika lurus akan mengarah ke Majalaya. Kemudian setelah belok kanan, kalian harus lurus terus mengikuti jalan raya sampai Kecamatan Pacet ditandai dengan mengikuti jalan raya yang arah kiri ke Pacet, kalian memilih jalan lurus dengan jalan yang sedikit lebih kecil, ikutin terus jalan Girihirum tersebut jangan belok-belok menuju Desa Pangauban nanti ada belok kanan yang sama ukuran jalannya, jika kalian bingung tanyakan saja pada warga, gampang untuk menemui warga jika kesana, tinggal bilang aja mau ke Danau Alam Lestari, nanti kalian akan ditunjukan jalannya. Mohon maaf sebelumnya saya lupa untuk mendokumentasikan patokan arah belokannya.


Kalau sehabis berenang paling recomend langsung jajan seblak yang ada disana, selain untuk membantu perekonomian warga sekitar, rasanya pun tidak kalah enak apalagi habis tubuh dingin-dingin langsung melahap seblak yang masih panas, ah nikmat rasanya. Terakhir berkunjung kesana, tempatnya sudah banyak yang diperbagus dibandingkan dengan awal pertama kesana, bahkan sekarang sudah ada playground khusus anak kecil, cocok mengajak sekeluarga untuk berpiknik kesini. Semoga tempat ini selalu terjaga, karena hanya satu-satunya tempat untuk para AKAMSI menghabiskan waktu berakhir pekan.


Rabu, 03 Oktober 2018

Bentuk Unik Curug Rahong yang Ada Di Cisewu Kabupaten Garut

Bismillahirrohmanirrohim

Setiap yang hendak mengunjungi Rancabuaya melewati jalur Pangalengan, sudah pasti menemui curug yang satu ini, letaknya pun mudah ditemukan yang berada di pinggir jalan utama setelah menuruni tanjakan curam dan sedikit melewati jembatan yang bawahnya merupakan aliran sungai dari curug tersebut. Nama curug, jembatan dan tanjakannya sama dengan penamaan Rahong, sedangkan untuk nama sungainya berbeda yaitu, Sungai Cibodas. Belum ada tempat parkir yang memadai untuk menyimpan kendaraan disini, jajan saja ke warung yang ada di pinggir jembatan, terus sekalian titipkan kendaraan ke penjaga warung, hitung-hitung kalian membantu perekonomian warga sekitar, kalian bisa mengobrol-ngobrol dengan pemilik warung seputar Curug Rahong maupun tentang Cisewu.

Akses yang enak dilalui untuk menuju Cisewu, lebih enak dan lebih dekat lewat Pangalengan, jika berangkat dari Bandung. Karena jika lewat Garut kota harus muter dahulu ke arah Cikajang kemudian ke arah Bungbulang, terus ke pertigaan Caringin. Sedangkan lewat Pangalengan hanya melewati Cukul dan Talegong, yang mana itu jalannya satu arah terus, dengan pemandangan hamparan kebun teh ketika melewati Pangalengan sampai Talegong. Untuk memakai motor matic diharapkan selalu mengecek kesiap siagaan motor kalian mulai dari oli, mesin dan yang paling penting rem jangan sampai habid kampas remnya, karena jalannya yang naik turun lumayan curam.

Keunikan dari Curug Rahong ini bentuknya yang berundak-undak, dan pada undakan yang paling atas dengan tinggi 10 meter terdapat batu yang menonjol diatas curugnya, sehingga aliran air dari atasnya membagi dua aliran. Tapi saya dan kawan saya tidak menuju kesana, karena sebelumnya tidak sadar kalau ini Curug Rahong, tahu-tahu ketika balik lagi ke warung dan menanyakan kepada seseorang yang akan menuju kesana. Lagipula kami datang kesana sudah terlalu sore, jadi tidak bisa berlama-lama karena perjalanan yang masih jauh, takut kemaleman di jalan, mengingat kami hanya satu motor berdua, dengan melewati jalan-jalan yang tertutup hutan dan gunung, kebayang dong mengerikannya, entah itu begal, entah itu mahluk halus.



Menurut penuturan dari masyarakat sekitar Curug Rahong ada banyak kejadian orang yang tenggelam dan tiba-tiba ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa. Hal ini dikarenakan 'Sang Penunggu' memiliki kekuatan besar yang dapat menyeret orang sedang berenang ke dalam sungai sehingga orang bisa tenggelam dan meninggal, karena tidak bisa bernafas. Kejadiannya berlangsung bukan hanya satu atau dua kali saja namun sudah terjadi berulang kali, dan kebanyakan yang menjadi korban dari orang luar Garut. Menurut masyarakat sekitar, kejadian ini terjadi karena perilaku pengunjung yang kurang tata krama ketika berenang sungai tersebut.


Sudah jelas tertera disana peraturan "DILARANG BERENANG DI AREA INI, KARENA BANYAK KORBAN JIWA YANG MELAYANG SIA-SIA. LEBIH BAIK TIDAK BERENANG DARIPADA NYAWA MELAYANG" Jadi sudah tahukan kalian harus bagaimana jika berkunjung kesana, meskipun dirasa sudah bisa berenang. Jadilah pengunjung yang bijak, jaga etika, sopan serta santun ketika mengunjungi ke tempat yang baru, kendatipun tidak ada orang yang akan kita jumpai ditempat itu.