Niat awal kami akan menuju Gunung Tampomas dengan jalur yang direkomendasikan, tetapi saudara dari Nissa yang asli warga sana siap akan mengantarkan kami dengan jalur yang berbeda, kami pikir dia sudah hapal betul jalur yang akan kami lalui lewat ceritanya yang sering berburu kesana, namun ternyata ditengah perjalanan berkehendak lain, bukan Gunung Tampomas yang kami tuju, melainkan tidak tahu berada di gunung mana. Tidak ada seorang pun yang kami jumpai selama diperjalanan untuk sekedar menanyakan gunung apa yang kami datangi bahkan saudara Nissa juga tidak tahu. Usut punya usut, bahwa gunung tersebut digunakan warga untuk berburu, terlihat memang dari jalur yang banyak bercabang dan hutan yang masih rimbun dengan tetumbuhan jelatang yang menutup jalur serta hewan pacet yang selalu menemani perjalanan.
Atas rasa penasaran yang tak tertahankan ingin sampai di puncak Gunung Tampomas, kami terus saja menyususuri hutan itu kearah atas, yang penting berjalan menanjak, karena logikanya semua puncak pasti berada diatas, jadi terus saja kami membuka jalur ke atas dengan alakadarnya menggunakan tangan kaki tanpa menggunakan golok. Bukan puncak Gunung Tampomas yang didapati setelah bersusah payah membuka jalur, melainkan lahan datar yang masih saja rimbun pepohohan dan tumbuhan yang menutupi jalur. Ketika melihat waktu sudah terlalu siang, tidak akan benar jika masih dilanjutkan terus, kami memutuskan untuk pulang, ternyata jalur turun lebih sulit tinimbang naik. Jalur turun harus menahan beban dengan jalur yang tidak karuan. Akhirnya setelah 12 jam berjalan terus dan sesekali istirahat sembari mencari jalan, naik lewat mana dan turun pun keluar dari mana. Sudah kesal karena tidak sampai-sampai dengan berjalan kaki, kami pun melihat mobil pick up yang terparkir di depan rumahnya, kami memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan meminta mengantarkan kami pulang, karena sudah lelah tak tertolong, jalan juga sudah digesek tidak bisa lagi diangkat. Sungguh nikmat mendapat transportasi pick up untuk pulang.
Tidak melulu mendapatkan hasil yang diinginkan ketika mendaki gunung, itu berarti mengajarkan bahwa tujuan dari mendaki gunung bukanlah sekedar eksistensi sampai puncak, melainkan dapat pulang kembali ke rumah bertemu keluarga yang sedang menunggu dengan mengharapkan selamat dan dalam keadaan yang sehat walafiat. Tidak perlu terlalu terobsesi melihat postingan orang lain yang keren-keren hingga rela memaksakan kehendak kendatipun membahayakan diri sendiri, karena pada hakikatnya setiap dibalik sebuah perjalanan memiliki sisi kerennya masing-masing tanpa harus seperti orang lain.
Untuk mengganti rasa kecewa gara-gara tidak sampai puncak, kami memutuskan untuk bermain-main dan berenang di mata air Cikandung, yang kebetulan dekat dengan rumah nenek Nissa yang kami tempati sedari sampai di Sumedang. Tinggal berjalan kaki selama 5 menit, akhirnya kami sampai disana dengan keadaan syahdu, tenang dan melihat pemandangan hijau-hijauan dari pematang sawah dan pohon-pohon yang ada disekitar. Air yang segar tidak terlalu dingin ditambah lagi air yang super jernih hingga terlihat dari atas dasarnya, tidak terlalu dalam pula ketinggian airnya membuat bisa siapa saja yang ingin berenang disana. Namun jangan berenang saat sore atau menjelang malam, karena suka banyak ular yang berenang disana.
Selain untuk dipakai berenang atau sekedar menikmati segarnya air, mata air Cikandung juga dimanfaatkan warga sekitar untuk mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangga dan lain-lain disana, uniknya meskipun mencuci dengan menggunakan sabun cuci, air busanya tidak mencemari mata air tersebut, melainkan langsung menghilang busa nya da kembali jernih airnya. Sepertinya mata air Cikandung ini dijadikan sumber kehidupan warga disana selain sebagai tempat wisata, oleh karena itu bagi kalian yang akan mengunjungi kesana, selalu menjaga kebersihan tempat jangan meninggalkan sampah atau apa pun yang mencemari tempat tersebut.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar